Studi Epidemiologi dan Gambaran Program Eliminasi Filariasis Limfatik di Kabupaten Bogor

Epidemiology Study and Overview of Lymphatic Filariasis Elimination Program in Bogor Regency

  • Muhammad Nirwan Institut Pertanian Bogor (IPB)
  • Upik Kesumawati Hadi Institut Pertanian Bogor (IPB)
  • Susi Soviana Divisi Parasitologi dan Entomologi Kesehatan Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Jl Agathis Kampus IPB Darmaga, Bogor, Jawa Barat
  • Surachmi Setyaningsih Divisi Mikrobiologi Medik, Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Jl. Agathis Kampus IPB, Darmaga, Bogor, Jawa Barat.
  • Fadjar Satrija Divisi Parasitologi dan Entomologi Kesehatan Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Jl Agathis Kampus IPB Darmaga, Bogor, Jawa Barat
Keywords: Epidemiology, Filariasis, POPM, Bogor, Indonesia

Abstract

Abstract. Filariasis is still a health problem in Bogor Regency. The discovery of filariasis sufferers has growing during the year since 2004 until now with a total of 117 people. The mass prevention drug administration program (POPM) has been implemented since 2015. This study aims to identify the epidemiological distribution of clinical filariasis sufferers and an overview of the achievement of filariasis elimination program in Bogor district. The research using descriptive design with a quantitative approach. The data in this study used secondary data from Bogor District Health Office and Bogor Central Bureau of Statistics. Data were analyzed descriptively and identify differences and relationships between variables used the chi-square test. The results of the study showed the epidemiological distribution of filariasis in Bogor Regency with predominantly female patients (59.8%) and productive age (36-45 years). The results from chi-square test showed that there was a significant difference between the age groups and the
incidence of filariasis from year to year with a P value (0.000) <0.05, while the relationship between sex and the incidence of filariasis from year to year did not show a significant difference with the P value ( 0.07)>0.05. The spread of filariasis tends to fluctuate and continues to increase (75%). The results of the relationship test showed that there was no significant relationship between the number of cases and the level of family welfare with a P value (0.279)>0.05. The implementation of POPM, both treatment outcomes and treatment success rates, has exceeded the national target.

Abstrak. Filariasis masih merupakan masalah kesehatan di Kabupaten Bogor. Penemuan penderita filariasis terus berkembang dari tahun ke tahun sejak tahun 2004 hingga sekarang dengan jumlah penderita sebesar 117 orang. Program pemberian obat pencegahan massal (POPM) telah dilaksanakan sejak tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengidentifikasi sebaran epidemiologi penderita filariasis klinis serta gambaran pencapaian program eliminasi filariasis di kabupaten Bogor. Desain penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder dari dinas kesehatan Kabupaten Bogor dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor. Data dianalisis secara deskriptif dan untuk melihat perbedaan dan hubungan antar variabel digunakan uji chisquare. Hasil studi menunjukkan sebaran epidemiologi filariasis di Kabupaten Bogor dengan penderita dominan pada perempuan (59,8%) dan umur produktif (36-45 tahun). Hasil uji chi-square menunjukkan ada perbedaan signifikan antara kelompok umur dengan kejadian Filariasis dari tahun ke tahun dengan P value (0,000) < 0,05, sedangkan hubungan antara jenis kelamin dan kejadian Filariasis dari tahun ke tahun tidak menunjukkan perbedaan signifikan dengan P value (0,07) > 0,05. Penyebaran filariasis cenderung fluktuatif dan terus bertambah wilayahnya (75%). Hasil uji hubungan menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara jumlah kasus dengan tingkat kesejahteraan keluarga dengan P value (0,279) > 0,05. Pelaksanaan POPM baik angka capaian pengobatan dan angka keberhasilan pengobatan sudah melebihi dari target nasional.

 

References

1 WHO. Lymphatic filariasis (A handbook for national elimination programmes). 2013.

2 Kementerian Kesehatan. Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No. 94 Tahun 2014. Penanggulangan Filariasis. 2014; : 1–118.

3 Goldberg EM, King JD, Mupfasoni D, Kwong K, Hay SI, Pigott DM et al. Ecological and Socioeconomic predictors of transmission assessment survey failure for lymphatic filariasis. 2019; 101: 271–278.

4 Kinyatta NM, Ng W, Kamau L, Kagai M. Comparison of indoor mosquito collection methods in the assessment of lymphatic filariasis transmission dynamics in. 2018; 2:58–66.

5 Pudatin Kemenkes RI. Situasi filariasis di indonesia tahun 2015. Kementerian Kesehatan Press: Jakarta.2016.

6 Bogor DKK. Petunjuk teknis pelaksanaan eliminasi kaki gajah bagi puskesmas tahun 2019. 2019.

7 Bogor DKK. Data primer kasus filariasis Kabupaten Bogor. 2018.

8 Ismah Z. Bahan ajar dasar epidemiologi. fakultas kesehatan masyarakat Universitas Islam Negeri Medan Sumatera Utara: Medan.2018.

9 Dinkes Kabupaten Bogor. Petunjuk teknis bulan eliminasi kaki gajah untuk kecamatan. .2015.

10 Rencana Program investasi jangka menegah (RPIJM) Kabupaten Bogor Tahun 2015-2019. 2019; 4: 1–29.

11 Santoso, Hotnida Sitorus dan Reni Oktarina. Faktor risiko filariasis di Kabupaten Muaro Jambi. Bul Penelit Kesehat. 2013; 41: 152–162.

12 Maryanti E, Andriyani A, Suyanto S. Gambaran penderita filariasis di Kabupaten Meranti Provinsi Riau Periode 2009-2014. J Ilmu Kedokt. 2017; 10: 112–120.

13 Chesnais CB, Pitchouna N, Uvon A, Vlaminck J, Tambwe JP, Weil GJ et al. Risk factors for lymphatic filariasis in two villages of the Democratic Republic of the Congo. Parasit Vectors. 2019; : 1–13.

14 Amelia R. Analisis faktor risiko kejadian penyakit filariasis. Unnes J Public Heal. 2014; 3: 1–12.

15 Sukatendra DM, Shidqon MA. Description of Feeding behavior of Culex sp. as Filariasis Vector Wuchereria Bancrofti. J Pena Med. 2016; 6: 19–33.

16 Patanduk Y, Yunarko R, Mading M. Penerimaan masyarakat dan cakupan pengobatan massal filariasis di Kecamatan Kodi Balaghar. Bul Penelit Sist Kesehat. 2017; 19: 157–163.

17 Pandey A. Current status of lymphatic filariasis in Sarangarh Tehsil, District Raigarh, Chhattisgarh. IOSR J Pharm Biol Sci Ver III. 2015; 10: 2319–7676.

18 Obindo J, Abdulmalik J, Nwefoh E, Agbir M, Nwoga C, Armiya’u A et al. Prevalence of depression and associated clinical and socio-demographic factors in people living with lymphatic filariasis in Plateau State,
Nigeria. PLoS Negl Trop Dis. 2017; 11. doi:10.1371/journal.pntd.0005567.

19 krentel a, fischer pu, weil gj. a review of factors that influence individual compliance with mass drug administration for elimination of lymphatic filariasis. PLoS Negl Trop Dis. 2013; 7: e2447.

20 Abdulmalik J, Nwefoh E, Obindo J, Dakwak S, Ayobola M, Umaru J et al. Emotional difficulties and experiences of stigma among persons with lymphatic filariasis in Plateau state, Nigeria. Health Hum Rights. 2018; 20:27–40.

21 Hofstraat K, Van Brakel WH. Social stigma towards neglected tropical diseases: A systematic review. Int Health. 2015; 8: i53–i70.

22 Ipa M, Astuti EP, Ruliansyah A, Wahono T, Hakim L. Gambaran surveilans filariasis di Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. J Ekol Kesehat. 2014; 13 (2): 153–164.

23 Badan Pusat Statistik. Kabupaten Bogor dalam angka 2019. BPS Kabupaten Bogor: Kabupaten Bogor.2019.

24 Kiarie-Makara MW, Ngumbi PM, Lee D-K. Effects of temperature on the growth and development of Culex pipiens complex mosquitoes (Diptera: Culicidae). IOSR J Pharm Biol Sci Ver II. 2015; 10: 1–11.

25 Ridha MR, Juhairiyah J, Fakhrizal D. Pengaruh iklim terhadap peluang umur nyamuk Mansonia spp di Daerah endemis filariasis di Kabupaten Kapuas. J Kesehat Lingkung Indones. 2018; 17: 74.

26 Mutheneni SR, Upadhyayula SM, Kumaraswamy S, Kadiri MR, Nagalla B. Influence of socioeconomic aspects on lymphatic filariasis: A case-control study in andhra pradesh, India. J Vector Borne Dis. 2016; 53: 272–278.

27 Juhairiyah J, Fakhrizal D, Hidayat S, Indriyati L, Hairani B. Kepatuhan masyarakat minum obat pencegah massal filariasis (kaki gajah): Studi kasus Desa Bilas, Kabupaten Tabalong. J Vektor Penyakit. 2019; 13: 49–58.

28 Banerjee1 S, Bandyopadhyay1 K, Khan1 MF, Akkilagunta1 S, Selvaraj1 K, , Jaya P. Tripathy1 RS et al. Coverage of mass drug administration for elimination of lymphatic filariasis in urban Nagpur, Central India: A mixed method study. J Fam Med Prim Care. 2017; 6: 169–170.
Published
2020-12-28
How to Cite
1.
Nirwan M, Hadi U, Soviana S, Setyaningsih S, Satrija F. Studi Epidemiologi dan Gambaran Program Eliminasi Filariasis Limfatik di Kabupaten Bogor. ASP [Internet]. 28Dec.2020 [cited 12Apr.2021];12(2):93-04. Available from: http://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/aspirator/article/view/2710