Penguatan Kebijakan One Health dan Jejaring Laboratorium Dalam Deteksi Dini Leptospirosis di Indonesia

  • Farida Dwi Handayani Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga
  • Diana Andriyani Pratamawati Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga
  • Wening Widjajanti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga
  • Muhidin Muhidin Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga
  • Bernadus Yuliadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga
  • Aprilia Safitri Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga
  • Nur Hidayati Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga
  • Arief Mulyono Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga
  • Ristiyanto Ristiyanto Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga
Keywords: leptospirosis, one-health, laboratory, early detection, Indonesia

Abstract

Abstract

International Leptospirosis Society stated Indonesia as a country with high leptospirosis incidence and ranked third in the world for mortality. Rikhus Vektora, in 2015 - 2017 in 25 provinces in Indonesia, showed that positive leptospirosis rats were found in all regions. However, Health Service Providers (PPK) both at the basic and advanced levels stated that they were unable to carry out a diagnosis of leptospirosis cases. Meanwhile, the data also showed that in the provinces where no leptospirosis cases reported, there were Leptospira bacteria found in captured rats both in settlements and remote areas. This condition causes leptospirosis like the phenomenon of the iceberg that is seen as no cases while the facts in the field of many people infected with late treatment. One Health approach in cross-sector leptospirosis data integration from a related department is needed in determining priorities for the prevention of leptospirosis. It is necessary to establish a laboratory network to obtain faster information regarding the enforcement of the diagnosis of leptospirosis cases. The proposed policy recommendations are the discovery of leptospirosis cases with capacity building for doctors and health workers through clinical lectures, cross-sector joint surveillance, and strengthening of laboratory networks for early enforcement of leptospirosis diagnose.

Keywords: leptospirosis, one-health, laboratory, early detection, Indonesia

Abstrak

International Leptospirosis Society menyatakan Indonesia sebagai negara dengan insidens leptospirosis tinggi dan peringkat ketiga dunia untuk mortalitas. Hasil Riset Khusus Vektor dan Reservoir Penyakit (Rikhus Vektora) pada tahun 2015 - 2017 di 25 provinsi di Indonesia menunjukkan bahwa di setiap provinsi ditemukan persentase tikus positif bakteri Leptospira. Namun, penyedia Pelayanan Kesehatan (PPK) baik yang ada di tingkat dasar maupun lanjutan menyatakan belum mampu untuk melakukan penegakkan diagnosa kasus leptospirosis. Sementara itu, data juga menunjukkan bahwa pada beberapa provinsi yang menyatakan tidak ada kasus leptospirosis ditemukan adanya bakteri Leptospira pada tikus yang ditangkap baik pada ekosistem yang dekat dengan pemukiman maupun yang jauh dari pemukiman. Kondisi ini menyebabkan leptospirosis seperti fenomena gunung es yaitu terlihat tidak ada kasus sementara fakta di lapangan banyak orang terjangkit yang terlambat diobati. Pendekatan ‘One Health’ dalam integrasi data leptospirosis lintas sektor (Dinas Kesehatan, Dinas Peternakan, Dinas Pertanian) diperlukan dalam penentuan prioritas penanggulangan leptospirosis. Selain itu, perlu dibuat jejaring laboratorium agar didapatkan informasi lebih cepat terkait penegakan diagnosis kasus leptospirosis. Rekomendasi kebijakan yang diusulkan adalah penemuan kasus leptospirosis dengan capacity building dokter dan tenaga kesehatan dengan cara ceramah klinis, surveilans bersama lintas sektor dan penguatan jejaring laboratorium untuk penegakan dini diganosa leptospirosis.

Kata kunci: leptospirosis, one-health, laboratorium, deteksi dini, Indonesia

References

Adler B, de la Peña Moctezuma A. Leptospira and leptospirosis. Vet Microbiol. 2010 Jan;140(3–4):287–96.

Picardeau M. Diagnosis and epidemiology of leptospirosis., Medecine et Maladies Infectieuses. 2013. Vol. 43 : 1–9.

Guernier V, Lagadec E, Cordonin C, Le Minter G, Gomard Y, Pagès F, et al. Human Leptospirosis on Reunion Island, Indian Ocean: Are Rodents the (Only) Ones to Blame? PLoS Negl Trop Dis. 2016;10(6):1–27.

Cassidy Logan Rist , Carmen Sofia Arriola CR. Prioritizing Zoonoses: A Proposed One Health Tool for Collaborative Decision-Making. PLoS One [Internet]. 2014;(October). Available from: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0109986%0A.

Satori AK dan D. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta; 2010.

Steele SG, Booy R, Mor SM. Establishing research priorities to improve the One Health e ffi cacy of Australian general practitioners and veterinarians with regard to zoonoses : A modi fi ed Delphi survey. One Heal. 2018;6(August):7–15.

Picardeau M. Virulence of the zoonotic agent of leptospirosis: Still terra incognita? Nat Rev Microbiol. 2017;15(5):297–307.

Departemen Kesehatan RI. Pedoman Penanggulangan Leptospirosis di Indonesia. Jakarta, Indonesia: Ditjen P2M dan PLP; 2005.

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta; 2017.

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia 2017. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. Jakarta; 2018.

Widarso, H.S. dan WP. Pedoman Diagnosa dan Penatalaksanaan Kasus Penanggulangan Leptospirosis [Internet]. Jakarta: SubDit Zoonosis,Dirjen P2M dan PL, Kementerian Kesehatan RI; 2003 [cited 2015 Sep 2]. Available from:http://adln.lib.unair.ac.id/files/disk1/784/gdlhub-gdl-s1-2015-chyntiadeb-39190-20.-daft-a.pdf.

Setadi B, Setiawan A ED. Leptospirosis. Sari Pediatri. 2013. 15 : 163-7.

Priyanto A, Hadisaputro S SL, Gasem H AS. Faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian leptospirosis (Studi kasus di Kabupaten Demak). J Epidemiol Univ Diponegoro. 2008;(2–5).

Jawetz E, Melnick JL AE, Ed. Medical Microbiology (25th ed). New York: Mc Graw Hill, 2010;.: Mc Graw Hill; 2010. p. 483-7.

Agampodi SB, Dahanayaka NJ, Nöckler K, Anne MS, Vinetz JM. Redefining gold standard testing for diagnosing leptospirosis: Further evidence from a well-characterized, flood-related outbreak in Sri Lanka. Am J Trop Med Hyg. 2016;95(3):531–6.

Musso D, La Scola B. Laboratory diagnosis of leptospirosis: A challenge. J Microbiol Immunol Infect. 2013;46(4):245–52.

Smythe LD, Smith IL, Smith GA, Dohnt MF, Symonds ML, Barnett LJ, et al. A quantitative PCR (TaqMan) assay for pathogenic Leptospira spp. BMC Infect Dis. 2002;2:1–7.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Provinsi Sumatera Selatan 2015. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2015.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Provinsi Sulawesi Tengah 2015. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2015.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Provinsi Papua Barat 2015. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2015.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Provinsi Jawa Tengah 2015. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2015.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Provinsi Lampung 2016. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2016.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Provinsi Maluku 2016. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2016.

Kementerian Kesehatann RI. Laporan Rikhus Vektora Provinsi Maluku Utara 2016. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2016.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Provinsi Kalimantan Barat 2016. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2016.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Provinsi Sulawesi Utara 2016. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2016.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Provinsi Bangka Belitung 2016. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2016.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Provinsi Sulawesi Tenggara 2016. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2016.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Provinsi Nusa Tenggara Barat 2016. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2016.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Provinsi Nusa Tenggara Timur 2016. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2016.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Kalimantan Selatan 2016. Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2016.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Jawa Timur 2016. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2016.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Jawa Barat 2016. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2016.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Banten 2016. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2016.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Sumatera Barat 2016. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Badan Litbang Kesehatan; 2016.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Aceh 2016. Salatiga: Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit, Salatiga; 2016.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit. Laporan Rikhus Vektora DIY 2017. Salatiga; 2017.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit. Laporan Rikhus Vektora Papua Barat 2017. Salatiga: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI; 2017.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit. Laporan Rikhus Vektora Jambi 2017. Salatiga: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan; 2017.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit. Laporan Rikhus Vektora Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2017. Salatiga: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan; 2017.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit. Laporan Rikhus Vektora Provinsi Riau Tahun 2017. Salatiga: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, kementerian Kesehatan RI; 2017.

Kementerian Kesehatan RI. Laporan Rikhus Vektora Bali 2017. Salatiga: B2P2VRP, Badan Litbang Kesehatan; 2017.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit. Laporan Rikhus Vektora Kalteng 2017. Salatiga: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI; 2017.

Rampengan NH. Leptospirosis. J Biomedik. 2016;8(3):143–50.

Gasem MH, Wagenaar JFP, Goris MGA, Adi MS, Isbandrio BB, Hartskeerl RA, et al. Murine typhus and leptospirosis as causes of acute undifferentiated fever, Indonesia. Emerg Infect Dis. 2009;15(6):975–7.

Lokida D, Budiman A, Pawitro UE, Gasem MH, Karyana M, Kosasih H, et al. Case report: Weil’s disease with multiple organ failure in a child living in dengue endemic area. BMC Res Notes. 2016;9(1):1–4.

Monahan AM, Callanan JJ, Nally JE. Review paper: Host-pathogen interactions in the kidney during chronic leptospirosis. Vet Pathol. 2009;46(5):792–9.

Dietrich M, Wilkinson DA, Soarimalala V, Goodman SM, Dellagi K, Tortosa P. Diversification of an emerging pathogen in a biodiversity hotspot: Leptospira in endemic small mammals of Madagascar. Mol Ecol. 2014;23(11):2783–96.

Chaudhry R, Das a, Premlatha MM, Choudhary a, Chourasia BK, Chandel DS, et al. Serological & molecular approaches for diagnosis of leptospirosis in a tertiary care hospital in north India: a 10-year study. Indian J Med Res. 2013;137(4):785–90.

Indonesia MH dan HR. UU No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2009;1–18.

Indonesia MH dan HR. Perpres RI No. 30 Tahun 2011 tentang Pengendalian Zoonosis. 2011;1–11.

Indonesia KK, Republik. Permenkes No. 1501 Tahun 2010. 2010;(879):2004–6.

Kementerian Kesehatan. Permenkes No.5 Tahun 2014. Jakarta : Kementerian Kesehatan. 2014.

Zoonosis SD. Pedoman Diagnosa dan Penatalaksanaan Kasus Penanggulangan Leptospirosis di Indonesia [Internet]. Widarso HS, Dr.MSc.M.Husein Gassem, DR, SpD. Drh. Wilfred Purba, MM, M.Kes.Tato Suharto, SKM.Drh. Siti Ganefa ME, editor. Jakarta: Dirjen P2M, Kementerian Kesehatan; 2003. Available from: https://id.123dok.com/document/ozlo866z-pedoman-diagnosa-danpenatalaksanaan-kasus-penanggulanganleptospirotsi-di-indonesia.html.

Published
2019-12-30
How to Cite
1.
Handayani F, Pratamawati D, Widjajanti W, Muhidin M, Yuliadi B, Safitri A, Hidayati N, Mulyono A, Ristiyanto R. Penguatan Kebijakan One Health dan Jejaring Laboratorium Dalam Deteksi Dini Leptospirosis di Indonesia. bpk [Internet]. 30Dec.2019 [cited 31May2020];47(4). Available from: http://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/bpk/article/view/1928
Section
Articles