KUSTA DI PROVINSI LAMPUNG: STUDI EKOLOGI BERDASARKAN TREN WAKTU

  • Nurhalina Sari universitas malahayati
  • Eliza Eka Nurmala
Keywords: Leprosy, Lampung, spatial analysis, ecological study, Kusta, analisis spasial, studi ekologi

Abstract

ABSTRACT 

Leprosy is a disease that can cause pain and disability, which in the end can affect a person's quality of life. Through the 2013 Bangkok Declaration, Indonesia declared itself that 2020 was a leprosy-free country. However, until 2015, there were still reports of leprosy cases, including in Lampung Province. This study aims to analyze spatial leprosy and its risk factors to get priority areas for leprosy handling in Lampung Province. The study used ecological study designs. The sources of leprosy data and risk factors came from secondary data at the Central Statistics Agency and Health Office in Lampung for the year 2011 to 2015. Data analysis using spatial analysis. The analysis shows that leprosy cases are divided into two categories, namely paucibacillary and multibacillary. Spatial analysis results for 5 years indicate that leprosy cases are dominant in Central Lampung and East Lampung Districts. Based on population density, number of poor people, sanitation, nutritional status, and health facilities, several districts have a high risk of leprosy. The conclusion of this study is the priority in handling leprosy cases should be focused in the Central Lampung District and East Lampung District.

Keywords: Leprosy, Lampung, spatial analysis, ecological study

 

ABSTRAK

Kusta merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kesakitan dan kecacatan,  yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Melalui Deklarasi Bangkok 2013, Indonesia menyatakan bahwa tahun 2020 menjadi negara bebas kusta. Namun, hingga 2015 masih terdapat laporan kasus kusta, termasuk di Provinsi Lampung. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara spasial  kusta dan faktor risikonya untuk mendapatkan prioritas penanganan kusta di Provinsi Lampung dengan desain studi ekologi. Sumber data kusta dan faktor risiko berasal dari data sekunder di Badan Pusat Statistik dan Dinas Kesehatan di Lampung 2011 sampai dengan 2015. Analisis data menggunakan analisis spasial. Hasil analisis menunjukkan bahwa kasus kusta terbagi dalam dua kategori yaitu pausibasiler (PB) dan multibasiler (MB).Hasil analisis spasial selama 5 tahun menunjukkan bahwa kasus kusta dominan di Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Lampung Timur. Berdasarkan kepadatan penduduk, jumlah orang miskin, sanitasi, status gizi, dan fasilitas kesehatan, beberapa kabupaten memiliki risiko tinggi terhadap kasus kusta. Kesimpulan penelitian ini adalah prioritas penanganan kasus kusta sebaiknya difokuskan di wilayah Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Lampung Timur.

Kata kunci: Kusta, Lampung, analisis spasial, studi ekologi

References

Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung (2011) Lampung dalam Angka 2011. Bandar Lampung. Available at: https://lampung.bps.go.id/.

Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung (2012) Lampung dalam Angka 2012. Available at: https://lampung.bps.go.id/.

Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung (2013) Lampung dalam Angka 2013. Available at: https://lampung.bps.go.id/.

Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung (2014) Lampung dalam Angka 2014. Available at: https://lampung.bps.go.id/.

Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung (2015) Lampung dalam Angka 2015. Available at: https://lampung.bps.go.id/.

Dinas Kesehatan Provinsi Lampung (2011) Profil Kesehatan Provinsi Lampung 2011.

Dinas Kesehatan Provinsi Lampung (2012) Profil Kesehatan Provinsi Lampung 2012.

Dinas Kesehatan Provinsi Lampung (2013) Profil Kesehatan Provinsi Lampung 2013.

Dinas Kesehatan Provinsi Lampung (2014) Profil Kesehatan Provinsi Lampung 2014.

Dinas Kesehatan Provinsi Lampung (2015) Profil Kesehatan Provinsi Lampung 2015.

Human Rights Council Advisory Committee (2010) ‘Draft set of principles and guidelines for the elimination of discrimination against persons affected by leprosy and their family members’.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2016) Laporan Kinerja Jenderal Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tahun 2016.

Lusli, M. et al. (2015) ‘Dealing with stigma: experiences of persons affected by disabilities and leprosy’, BioMed research international. Hindawi, 2015, p. 261329. doi: 10.1155/2015/261329.

Moreira, S. C. et al. (2014) ‘Epidemiological situation of leprosy in Salvador from 2001 to 2009’, Anais Brasileiros de Dermatologia. Sociedade Brasileira de Dermatologia, 89(1), pp. 107–117. doi: 10.1590/abd1806-4841.20142175.

Murto, C. et al. (2013) ‘Patterns of Migration and Risks Associated with Leprosy among Migrants in Maranhão, Brazil’, PLoS Neglected Tropical Diseases, 7(9). doi: 10.1371/journal.pntd.0002422.

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI (2018) Hapuskan Stigma dan Diskriminasi terhadap Kusta, Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Jakarta. Available at: www.depkes.go.id/pdf.php?id=2225.

Simunati (2013) ‘Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Penyakit Kusta Di Poliklinik Rehabilitasi Rumah Sakit Dr . Tadjuddin Chalid Makassar’, Poltekkes Kemenkes Makassar, 3(1), pp. 141–145.

The Nippon Foundation and Sasakawa Memorial Health Foundation (2011) Leprosy in Our Time.

World Health Organization (2016) Global Leprosy Strategy 2016–2020. India.

World Health Organization (WHO) (2016) World Health Assembly (WHA) resolution to eliminate leprosy, WHO. World Health Organization.

Zuhdan, E., Kabulrachman, K. and Hadisaputro, S. (2017) ‘Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Kusta Pasca Kemoprofilaksis (Studi pada Kontak Penderita Kusta di Kabupaten Sampang)’, Jurnal Epidemiologi Kesehatan Komunitas, 2(2), p. 89. doi: 10.14710/jekk.v2i2.4001.
Published
2019-12-02
How to Cite
Sari, N. and Nurmala, E. (2019) “KUSTA DI PROVINSI LAMPUNG: STUDI EKOLOGI BERDASARKAN TREN WAKTU”, JURNAL EKOLOGI KESEHATAN, 18(2), pp. 88-98. doi: 10.22435/jek.18.2.1372.88-98.