DETERMINAN WANITA UNTUK MELAKUKAN PEMERIKSAAN LANJUTAN SETELAH USG PAYUDARA

  • Artika Dewi Amri Universitas Udayana
  • Ni Luh Putu Suariyani
Keywords: Kanker payudara, pemeriksaan lanjutan, USG payudara

Abstract

Abstract

Background: The further examination after breast ultrasound is needed because the ultrasound examination is not merely recommended for early detection of breast cancer; however by the combination of ultrasound and mammography, the disorder in the breast could be determined more accurately. Mammography method is a method that could detect breast cancer with an accuracy up to 90 percent.

Objective: This study is aimed to identify the determinant of women to conduct further examination after breast ultrasound in Badung.

Method: The study’s design used a descriptive observational study with cross-sectional design. The sampling technique used was simple random sampling with a sample of 100 people. The bivariate analysis used chi-square with α = 0.05.

Result: The results of this study showed that, among the 100 respondents, there were 43 percent have done further examination. The proportion of women taking a further examination was 41 percent with high education, 38 percent with good knowledge, 18 percent stated the distance of health services were far, 43 percent were able to pay the further examination, 38 percent had ever received the information about breast cancer, 43 percent gained the support of health workers and 41 percent received good support from family. The results showed that there were four factors that had a relationship with the further examination after breast ultrasound, including the level of knowledge (OR = 8,65; 95% CI 3,19-23,86), affordability (p-value <0,0001), the support of health workers (p-value <0,0001) and the support of family (OR = 30,3; 95% CI 6,52-273,73).

Conclusion: The conclusion of this study is that the determinant of women to undertake the further examination after breast ultrasound depends on the level of knowledge, affordability, the support of health workers and the support of family. There is a need of an increase in socialization about breast cancer to women and husband/family. In addition, to increase further examination there is a need of socialization regarding the utilization of BPJS.

Keywords: breast cancer, advanced examination, breast ultrasound

Abstrak

Latar belakang: Pemeriksaan lanjutan setelah USG payudara perlu dilakukan karena pemeriksaan USG saja tidak direkomendasikan untuk deteksi dini kanker payudara, tetapi dengan kombinasi USG dan mammografi kelainan pada payudara dapat ditentukan lebih akurat. Metode mammografi merupakan metode yang dapat mendeteksi kanker payudara dengan akurasi sampai 90 persen.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan wanita untuk melakukan pemeriksaan lanjutan setelah USG payudara di Kabupaten Badung.

Metode: Desain penelitian menggunakan studi observasional deskriptif dengan desain potong lintang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan simple random sampling  dengan jumlah sampel 100 orang. Analisis bivariat menggunakan chi-square dengan α=0,05.

Hasil: Hasil penelitian ini menggambarkan dari 100 responden sebanyak 43 persen sudah melakukan pemeriksaan lanjutan. Proporsi wanita yang melakukan pemeriksaan lanjutan sebanyak 41 persen orang berpendidikan tinggi, 38 persen orang berpengetahuan baik, 18 persen orang menyatakan jarak pelayanan kesehatan jauh, 43 persen orang mampu untuk membiayai pemeriksaan lanjutan, 38 persen pernah memperoleh informasi tentang kanker payudara, 43 persen orang memperoleh dukungan petugas kesehatan, dan 41 persen memperoleh dukungan baik dari keluarga. Hasil penelitian menunjukkan terdapat empat faktor yang memiliki hubungan terhadap pemeriksaan lanjutan setelah USG payudara yaitu tingkat pengetahuan (OR = 8,65; 95% CI 3,19-23,86), keterjangkauan biaya (p-value <0,0001), dukungan petugas kesehatan (p-value <0,0001) dan dukungan keluarga (OR = 30,3; 95% CI 6,52-273,73).

Kesimpulan: Simpulan penelitian adalah determinan wanita untuk melakukan pemeriksaan lanjutan setelah USG payudara adalah tingkat pengetahuan, keterjangkauan biaya, dukungan petugas kesehatan, dan dukungan keluarga. Perlu adanya peningkatan sosialiasasi mengenai kanker payudara kepada wanita dan suami/keluarga. Selain itu untuk meningkatkan pemeriksaan lanjutan perlu adanya sosialisasi mengenai pemanfaatan BPJS Kesehatan.

Kata kunci: kanker payudara, pemeriksaan lanjutan, USG Payudara

 

References

1. Departemen Kesehatan RI. (2009). Buku Saku Pencegahan Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara.
2. World Health Organization (WHO). (2011). Global Status Report on Non-Communicable Diseases 2010 y. Burden: Mortality, Morbidity, and Risk Factors. Geneva: World Health Organization.
3. Kemenkes RI. (2015). Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
4. Susanti, N & Mintarsih, S. (2013). Gambaran Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Semester 2 tentang SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) di Prodi DIII Keperawatan STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta. Profesi. Vol 10.
5. Taha, M.N.A.B. (2010). Prevalensi dan Karakteristik Penderita Kanker Payudara di Departemen Bedah Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2010. Skripsi. Medan: Universitas Sumatera Utara.
6. Mediasta, E.H. (2012). Risiko Penggunaan Kontrasepsi Hormonal terhadap Kejadian Kanker Payudara di RSUP Sanglah Kota Denpasar Tahun 2011. Skripsi. Denpasar: Universitas Udayana.
7. Wahyuni, D & Harahap, W.A. (2015). Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap terhadap Pelaksanaan SADARI pada Ibu Rumah Tangga di Kelurahan Jati. Jurnal Kesehatan Andalas, 4 (1): 89-93
8. Mulyani, dkk. (2013). Kanker Payudara dan PMS pada Kehamilan. Yogyakarta: Nuha Medika.
9. Desanti, dkk. (2010). Persepsi Wanita Berisiko Kanker Payudara tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri di Kota Semarang Jawa Tengah. Berita Kedokteran Masyarakat, 26(3) : 152-161.
10. Savitri, dkk. (2015). Kupas Tuntas Kanker Payudara Leher Rahim & Rahim. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
11. Huang, et al. (2012). Combinaed Performance of Physical Examination, Mammography and Ultrasonography for Breast Cancer Screening among Chinese Women : a follow up study. Current Oncology, 19 : 22-30.
12. Notoatmodjo, S. (2014). Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
13. Dyanti, R.G.A & Suariyani, N.L.P. (2016). Faktor-Faktor Keterlambatan Penderita Kanker Payudara dalam Melakukan Pemeriksaan Awal ke Pelayanan Kesehatan. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 11(2): 96 – 104.
14. Pradono, J., & Sulistyowati, N. (2014). Hubungan antara Tingkat Pendidikan, Pengetahuan tentang Kesehatan Lingkungan, Perilaku Hidup Sehat dengan Status Kesehatan. Studi Korelasi pada Penduduk Umur 10-24 tahun di Jakarta Pusat.
15. Mirayashi, dkk. (2014). Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Tentang Kanker Serviks dan Keikutsertaan Melakukan Pemeriksaan Inspeksi Visual Asetat di Puskesmas Alianyang Pontianak. Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura, 1 (1) : 1-18.
16. Hastuti, R.Y. (2010). Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Kanker Payudara dengan Perilaku Deteksi Dini Kanker Payudara pada WUS di Desa Mojodoyong Kedawung Sragen. KTI. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
17. Yuliwati. (2012). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku WUS dalam Deteksi Dini Kanker Leher Rahim Metode IVA di Wilayah Puskesmas Prembun Kabupaten Kebumen Tahun 2012. Skripsi. Jakarta, Universitas Indonesia.
18. Erlina, dkk. (2013). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ibu Hamil terhadap Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan di Puskesmas Rawat Inap Panjang Bandar Lampung. Medical Journal of Lampung University, 2 (4) : 29-34.
19. Nurtini, N.M. (2012). Hubungan antara Faktor Presdiposisi, Pendukung dan Pendorong dengan Cakupan Inspeksi Visual Asam Asetat di Kota Denpasar. Thesis. Denpasar : Universitas Udayana.
20. Martini, N.K. (2013). Hubungan Karakteristik, Pengetahuan dan Sikap Wanita Pasangan Usia Subur dengan Tindakan Pemeriksaan Pap Smear di Puskesmas Sukawati II. Thesis. Denpasar. Universitas Udayana.
21. Rohmawati, I. (2011). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Wanita Usia Subur dalam Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Metode IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) di Wilayah Kerja Puskesmas Ngawen 1 Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2011. Skripsi: Universitas Indonesia.
22. Septiani, S & Suara, M. (2013). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) pada Siswa SMAN 62 Jakarta 2012. Jurnal Kesehatan Ilmiah, 5(1) : 31-35.
Published
2020-07-03
How to Cite
1.
Amri AD, Suariyani N. DETERMINAN WANITA UNTUK MELAKUKAN PEMERIKSAAN LANJUTAN SETELAH USG PAYUDARA. kespro [Internet]. 3Jul.2020 [cited 3Aug.2020];11(1):57-. Available from: http://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/kespro/article/view/2175