PERAN DAN FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU GURU DALAM PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI KABUPATEN SUBANG TAHUN 2019

  • Juariah Juariah Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat
  • joko irianto irianto Kemenkes
Keywords: perilaku guru, pendidikan, kesehatan reproduksi remaja

Abstract

Abstract

Background: Teachers have an important role in providing  reproductive health education for adolescents.

Objective: To analyze the relationship of characteristics, training, knowledge, attitude, identities and school supports with teacher behavior in providing adolescent reproductive health education.

Method: This study was an analytical research with cross-sectional design. The number of sampel were 71 schools that was determined by systematic random sampling. The number of respondents were 421 teachers. The independent variables were characteristics, training, knowledge, attitudes, identities and school supports. The dependent variable was teachers behavior in providing reproductive health education. Data were collected through interviews. The data were analyzed using Chi Square Test and multiple logistic regression.

Result: Factors related to teacher behavior in providing adolescent reproductive health education were gender (OR: 1.64; 95% CI: 1.105-2.437), employment status (OR: 1.55 ; 95% CI: 1.03-2.34 ), training participation (OR:1.78; 95% CI: 1.210-2.623), knowledge (p: 0.000),  attitude (OR: 5,81 ; 95% CI: 4.412-7.650), facilities (OR: 1749.52 ; 95% CI: 457.670-6688.005) and implementation (OR: 2008.95; 95% CI: 512.397-7876.487). The most dominant factors related to the teachers behavior in providing reproductive health education were facilities (OR: 110.49; 95% CI: 22.21-549.52) and implementation (OR: 139.28; 95% CI: 28.56- 679.30).

Conclusion: Adequate support of learning facilites and aspects of implementation had major contribution to the behavior of teachers in providing reproductive health education.

Keywords: teacher behavior, education, adolescent reproductive health

Abstrak

Latar belakang: Guru memiliki peranan penting dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja.

Tujuan: Menganalisis hubungan karakteristik, pelatihan, pengetahuan, sikap, identitas dan dukungan sekolah dengan perilaku guru dalam memberikan pendidikan keehatan reproduksi remaja.

Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain potong lintang. Sampel ditetapkan dengan systematic random sampling berjumlah 71 sekolah. Responden berjumlah 421 orang guru. Variabel independen adalah karakteristik, pelatihan, pengetahuan, sikap, identitas dan dukungan sekolah. Variabel dependen adalah perilaku guru dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi. Data dikumpulkan melalui wawancara. Data dianalisis dengan uji Chi-square dan regresi logistik ganda. 

Hasil: Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku guru dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi remaja adalah jenis kelamin (OR:1,64; 95% CI: 1,105-2,437), status kepegawaian (OR: 1,55 ; 95% CI: 1,03-2,34 ), keikutsertaan pelatihan (OR:1,78; 95% CI: 1,210-2,623), pengetahuan (p: 0,000), sikap (OR: 5,81 ; 95% CI: 4,412-7,650), sarana  (OR: 1749,52 ; 95% CI: 457,670-6688,005) dan pelaksanaan  (OR: 2008,95; 95% CI: 512,397-7876,487). Faktor yang paling dominan berhubungan dengan perilaku guru dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi adalah sarana (OR: 110,49; 95% CI: 22,21-549,52) dan pelaksanaan (OR: 139,28; 95% CI: 28,56- 679,30).

Kesimpulan: Dukungan sarana pembelajaran yang memadai dan aspek pelaksanaan memiliki kontribusi utama terhadap perilaku guru dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi.

Kata kunci: perilaku guru, pendidikan, kesehatan reproduksi remaja

References

1. World Health Organization. Promoting adolescent sexual and reproductive health through schools in low income countries : an information brief. Geneva: WHO Press; 2008.
2. UNFPA and Center for reproductive rights. ICPD and Human Rights : 20 years advancing reproductive rights through UN treaty bodies and legal reform [Internet]. 2013. Available from: www.reproductiverights.org
3. Adamchak, S., Bond, K., MacLaren, L., Magnani, R., Nelson, K., Seilzer J. A Guide to Monitoring and Evaluating Adolescent Reproductive Health Programs. Washington; 2000.
4. Statistics Indonesia, National Population and Family Planning Board, Ministry of Health, MEASURE DHS II. Indonesia Demographic and Health Survey 2012: Adolescent Reproductive Health. Jakarta; 2013.
5. McKay A. Sexual health education in the schools: Questions & answers (3 rd edition). Sex Information and Education Council of Canada. 2005.
6. Kaushal P, Singh T, Padda AS, Deepti SS, Bansal P, Satija M, et al. Impact of health education on the knowledge, attitude and practices of teachers regarding reproductive health of adolescents of Amritsar, Punjab. J Clin Diagnostic Res. 2015;9(5):LC18–21.
7. Acharya N, Sabiha, Hariharan C, Gupta S, Athavale R. Study of change in knowledge and attitude of secondary school teachers toward adolescent reproductive health education after training program in rural schools of Wardha district, Maharashtra. J SAFOG. 2014;6(2):98–100.
8. Tanjung, A., Utamadi, G., Sahanaja, J., Tafal Z. Kebutuhan Akan Informasi dan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja. Laporan Need Assesment di Kupang, Palembang, Singkawang, Cirebon dan Tasikmalaya. PKBI,UNFPA dan BKKBN. 2001.
9. Statistics Indonesia, National Population and Family Planning Board, Ministry of Health, MEASURE DHS II. Indonesia Demographic and Health Survey: Adolescent Reproductive Health. Calverton; 2013.
10. Sulistyoningrum R. Hubungan Antara Dukungan Sosial Dan Akses Terhadap Informasi Dengan Perilaku Sehat Reproduksi Remaja Slow Learner. J Promosi Kesehat [Internet]. 2011;1(1):24–34. Available from: http://www.journal.unair.ac.id/filerPDF/3. hubungan slow learner.pdf
11. Pusat data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Situasi Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta; 2015.
12. Aktar, B., Sarker, M., Jenkins A. Exploring Adolescent Reproductive Health Knowledge, Perceptions, and Behavior, Among Students of Non-Government Secondary Schools Supported by BRAC Mentoring Program in Rural Bangladesh. J Asian Midwives [Internet]. 2014;1(1):17–33. Available from: http://ecommons.aku.edu/jam
13. Pawestri. Persepsi Guru SMA Kota Semarang Tentang Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja. In: Journal of the Japanese Society of Pediatric Surgeons. 2011.
14. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat. Provinsi Jawa Barat Dalam Angka 2018 [Internet]. BPS Provinsi Jawa Barat. Bandung; 2018. Available from: https://jabar.bps.go.id/publication/2018/08/16/d8b96de222796402938666e4/provinsi-jawa-barat-dalam-angka-2018.html
15. Pusat Penelitian Pengembangan dan Informasi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia. Data Penempatan dan Perlindungan PMI [Internet]. 2019. Available from: www.bnp2tki.go.id
16. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. JUMLAH DATA SATUAN PENDIDIKAN (SEKOLAH) PER KABUPATEN/KOTA : Kab. Subang Berdasarkan Jenis SMP/MTs [Internet]. 2019. Available from: http://referensi.data.kemdikbud.go.id
17. Scheaffer, Richard L.William Mendenhall, R.Lyman Ott, Gerow GK. Elementary Survey Sampling. Seventh ed. Julet M, editor. Boston: Richard Stratton; 2012. 452 p.
18. Nastiti S. Perbedaan kinerja guru berdasarkan status kepegawaian pns dan non pns di sma negeri se-kabupaten rembang skripsi. 2016.
19. Vebriana C. Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan, Pengalaman Mengajar dan Sikap Profesional Guru Terhadap Kompetensi Guru Ekonomi SMA Se-Kota Tegal. Universitas Negeri Semarang; 2017.
20. Fitriana H, Siswantara P. Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Di SMPN 52 Surabaya. Indones J Public Heal. 2019;13(1):110.
21. Emilda R. Hubungan Tingkat Pemahaman Guru Tentang Kompetensi Pedagogik dengan Tingkat Kemampuan Mengajar Guru. Universitas Lampung; 2015.
22. Fuadi I. Hubungan Antara Pengetahuan dengan Sikap Masyarakat dalam Mencegah Leptospirosis di Desa Pabelan Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo. Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2016.
23. Prasetyo B. Hubungan Kualifikasi Akademik dengan Penguasaan Kompetensi Profesional pada Guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) SMP/MTS Se-Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga. 2015.
24. Budiono T. Hubungan Karakteristik Guru dan Fasilitas Belajar dengan Kualitas Pembelajaran Siswa di SMK Negeri 2 Yogyakarta. Universitas Negeri Yogyakarta; 2012.
Published
2020-07-03
How to Cite
1.
Juariah J, irianto joko. PERAN DAN FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU GURU DALAM PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI KABUPATEN SUBANG TAHUN 2019. kespro [Internet]. 3Jul.2020 [cited 3Aug.2020];11(1):11-4. Available from: http://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/kespro/article/view/3092