Kepadatan dan Keragaman Spesies Nyamuk di Desa Jagaraga Kecamatan Buana Pemaca dan Desa Sukajaya, Kecamatan Buay Rawan, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan

  • yahya yahya 0812787646
  • R Irpan Pahlepi
  • Rahayu Hasti Komariah
  • Desy Asyati
  • Surakhmi Oktavia
Keywords: mosquitoes, abundance, habitat, OKU Selatan

Abstract

Abstract

The study on mosquito diversity was conducted in Jagaraga Village, Buana Pemaca  Subdistrict and Sukajaya Village, Buay Rawan Subdistrict of Ogan Komering Ulu Selatan Regency in 2017. This study aimed to analyze population density of mosquitoes, feeding habits and resting behavior of mosquito, and identify the types of potential /specific breeding habitat of mosquito larvae in OKU Selatan regency. Mosquitoes were collected during the night for 12 hours, started at 06.00 p.m. until 06.00 a.m. by human landing, resting, and cattle landing collection methods. The indoor density of mosquitoes ranged from 0.04-3.96 mosquitoes/person/hour with the highest density of 10,7 on Cx.tritaeniorhyncus. Species of mosquitoes collected in Sukajaya Village were more diverse than in Buana Pemaca Village. There were 12 species and the most dominant species was Cx. tritaeniorhyncus (68.09%), Breeding habitats were identified in rice fields, bricks pit, puddle marsh, and flow of rice fields.

Abstrak

Penelitian tentang keragaman nyamuk telah dilakukan Di Desa Jagaraga Kecamatan Buana Pemaca dan Desa Sukajaya Kecamatan Buay Rawan Kabupaten OKU Selatan pada tahun 2017. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kepadatan populasi nyamuk yang tertangkap, menganalisis kebiasaan mencari makan dan
perilaku beristirahat masing-masing spesies nyamuk yang tertangkap serta mengetahui jenis-jenis habitat perkembangbiakan potensial bagi larva nyamuk yang ada di Kabupaten OKU Selatan. Penangkapan nyamuk dilakukan selama 12 jam dimulai dari pukul 18.00 WIB malam hingga pukul 06.00 pagi, menggunakan metode human landing collection, resting collection dan penangkapan di sekitar kandang ternak. Spesies nyamuk yang tertangkap 12 spesies dan yang paling dominan yaitu Culex tritaeniorhyncus(68,9%). Kepadatan nyamuk yang menggigit per orang per jam (MHD) di dalam rumah berkisar antara 0,04-3,96 ekor/orang/jam. Kepadatan rata-rata paling tinggi pada nyamuk Cx. tritaeniorhyncus 10,7 ekor. Habitat perkembangbiakan berupa sawah, lubang galian tanah liat untuk batu bata, kobakan, aliran sawah.

References

O'Connor CT, Sopa T. A Checklist of The Mosquitoes of Indonesia. A spesial. Jakarta: US Naval Medical Research Unit No.2; 1981.

Munif A. Nyamuk Vektor Malaria dan Hubungannya Dengan Aktivitas Kehidupan Manusia Di Indonesia. Aspirator J Vector Borne Dis Stud. 2009 ; 1 (2) : 94 - 102 .doi:10.22435/aspirator.v1i2.2936

Islamiyah M, Leksono AS, Gama ZP. Distribusi dan Komposisi Nyamuk di Wilayah Mojokerto.J Biot. 2013;1(2):80-85.

Munif A, Rusmianto S, Aryati Y, Andris H,Stoops CA. Konfirmasi Status Anopheles vagus sebagai Vektor Pendamping saat Kejadian Luar Biasa Malatria di Kabupaten Sukabumi Indonesia. J Ekol Kesehat. 2008;7(nomor 1 April 2008):689-696.

Dinas Kesehatan Kabupaten OKU Selatan.Profil Kesehatan Kabupaten OKU Selatan Tahun 2016. OKU Selatan; 2016.

Oktarina R, Yahya Y, Salim M, Pahlevi I. Keragaman Spesies Nyamuk di Desa Pemetung Basuki dan Desa Tanjung Kemala Barat KAbupaten Ogan Komering Ulu Timur.Spirakel. 2014;6(September):14-25.

Rattanarithikul R, Harrison BA, Pantusiri P,Coleman RE. Illustrated keys to the mosquitoes of Thailand.Southeast Asian J Trop Med Public Health. 2005;36(Supplement 1):181.doi:10.1088/0004637X/709/2/937

Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Survei Entomologi Malaria Dan Pedoman Vektor Malaria Di Indonesia. Jakarta: Dirjen PP dan PL; 2013.

Penyakit BBP dan PV dan R. Pedoman Pengumpulan Data Vektor (Nyamuk) Di Lapangan. Salatiga: B2P2VRP Salatiga; 2015.

World Health Organization. Division of Malaria and other Parasitic Diseases. Manual on Practical Entomology in Malaria. Geneva: WHO Division of Malaria and Other Parasitic Diseases; 1995.

Sigit SH. Studies on The Organization of Oribatid Mite Communities in Three Ecologycally Different Grasslands. 1968

Yulidar. Populasi Nyamuk yang Berpotensi sebagai Vektor Filariasis Di Kabupaten Aceh Utara. 2018;6(1):70-74

Ramadhani T, Wahyudi BF. Keanekaragaman dan Dominasi Nyamuk di Daerah Endemis Filariasis Limfatik, Kota Pekalongan. J Vektor P e n y a k i t . 2 0 1 6 ; 9 ( 1 ) : 1-8 .doi:10.22435/vektorp.v9i1.5037.1-8

Astuti EP, Ipa M, Wahono T, Riandi U. Kepadatan nyamuk tersangka vektor Filariasis di Desa Panumbangan Kabupaten Ciamis, desa Jalaksana Kabupaten Kuningan dan Desa Batukuwung Kabupaten Serang. J Ekol Kesehat. 2012;11(4):342-352.

Sitorus H, Budiyanto A, Ambarita LP, Hapsari N,Taviv Y. Keanekaragaman spesies nyamuk di wilayah endemis filariasis di Kabupaten Banyuasin dan endemis malaria di Oku Selatan. Balaba. 2015;11(Des 2015):97-104.

Hadi UK, Koesharto F. Nyamuk. In: Hadi UK,Sigit SH, eds. Hama Permukiman Indonesia: Pengenalan, Biologi Dan Pengendalian.Institut Pertanian Bogor; 2006:23-51.

Tunjungsari R, Tri Wibowo Ambar Garjito.Pendekatan Molekuler Konfirmasi Vektor Japanese Encephalitis (JE) di Kota Surabaya Jawa Timur. Vektora J Vektor dan Reserv Penyakit .2014 ; 6 (2) : 73 - 79 https://media.neliti.com/media/publications/126651-ID-molecular -approach-onjapanese-encephali.pdf

Hadi UK, Soviana S, Syafriati T. Ragam Jenis Nyamuk di Sekitar Kandang Babi dan Kaitannya dalam Penyebaran Japanese Encephalitis. J Vet. 2011;12(4):326-334.

Yahya, Salim M, Santoso. Pengaruh Faktor Lingkungan Terhadap Distribusi Spesies Nyamuk Terkonfirmasi Virus Japanese encephalitis di Sumatera Selatan. Vektora J Vektor dan Reserv Penyakit. 2018;10 (1 Juni 2018) : 13- 24.doi:10.22435/vk.v10i1.7827.13-24

Epidemiology Unit Ministry of Health Sri Lanka.Japanese Encephalitis : A Manual for Medical Officers. Srilanka: Epidemiology Unit Ministry of Health Sri Lanka; 2012.

Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Ekologi Dan Aspek Perilaku Vektor. Jakarta: Departemen Kesehatan; 2007.

Departemen Ke s eha t an RI. Modul Epidemiologi Malaria 1. Jakarta: Direktorat Jenderal PPM & PL. Departemen Kesehatan RI.;1999.

Dinas Kesehatan Kabupaten OKU Selatan. Laporan Dinas Kesehatan Ogan Komering Ulu Selatan Tahun 2016.

Raharjo mursid. Malaria Vulnerability Index (Mli) untuk Manajemen Risiko Dampak Perubahan Iklim Global Terhadap Ledakan Malaria di Indonesia. Vektora. 2013;3 (1 Jun) : 54 - 80.doi:10.22435/vektora.v3i1Jun.3324.54-80

Mading M. Beberapa Aspek Bioekologi Nyamuk Anopheles vagus di Desa Selong Belanak Kabupaten Lombok Tengah. 2014;6:26-32.

Wigati RA, Mardiana, Mujiyono, Alfiah S.Deteksi Protein Circum Sprozoite pada Spesies Nyamuk Anopheles vagus Tersangka Vektor Malaria di Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo dengan Uji Enzime - Linked immunosorbent Assay (ELISA). Media Litbang Kesehat. 2010;XX(3):118-123

Budiyanto A, Ambarita LP, Salim M. Konfirmasi Anopheles sinensis dan Anopheles vagus sebagai Vektor Malaria di Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan (The confirmation of Anopheles sinensis and Anopheles vagus as Malaria Vector in Muara Enim District, South Sumatra Province). Aspirator. 2017;9(2):51-60.

Setiyaningsih R, Alfiah S, Garjito TWA,Heriyanto B. Assesment penyakit tular vektor malaria. Media Litbangkes. 2015;25(2):1-6.

Published
2020-06-02
How to Cite
yahya, yahya, Pahlepi, R., Komariah, R., Asyati, D., & Oktavia, S. (2020). Kepadatan dan Keragaman Spesies Nyamuk di Desa Jagaraga Kecamatan Buana Pemaca dan Desa Sukajaya, Kecamatan Buay Rawan, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Jurnal Vektor Penyakit, 14(1), 37-48. https://doi.org/10.22435/vektorp.v14i1.1286
Section
Articles