Brugia malayi dan Dirofilaria spp sebagai penyebab Filariasis pada hewan reservoir di daerah endemis di Kalimantan

  • Dicky Andiarsa Balai Litbangkes Tanah Bumbu
  • Budi Hairani Balai Litbangkes Tanah Bumbu
  • Abdullah Fadilly Balai Litbangkes Tanah Bumbu
Keywords: Lymphatic filariasis, dirofilariasis, zoonosis, microfilariae.

Abstract

Abstrak. Penyakit limfatik filariasis dan dirofilariasis berpotensi zoonosis di Indonesia. Kurangnya data tentang dirofilariasis pada manusia dan hewan menjadi dasar alasan dilakukannya studi ini menggunakan metode studi observasional dengan desain potong lintang. Sebanyak 201 hewan reservoir digunakan pada penelitian ini, yaitu kucing rumah (Felis catus), lutung (Presbytis cristatus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kucing hutan (Felis silvestris) dan anjing (Canis familiaris) di dua daerah endemis filariasis, yaitu Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dan Kabupaten Kotawaringin Barat (KOBAR), Kalimantan. Pengambilan darah hewan melalui vena dilakukan pada malam hari. Keberadaan mikrofilaria dalam darah dideteksi melalui preparat ulas darah tebal dan tipis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 21%  dan 28,7% hewan reservoir di Kabupaten HSU dan KOBAR secara berurutan terinfeksi mikrofilaria. Hewan domestikasi yang terinfeksi mikrofilaria lebih banyak dibandingkan dengan hewan liar. Berdasarkan agen penyebabnya,  Dirofilaria spp. (20,89%) lebih dominan menginfeksi hewan reservoir, diikuti dengan Brugia malayi (2,48%). Infeksi campuran diperoleh dari 1,49% hewan reservoir. Hasil ini mengindikasikan bahwa hewan reservoir di kedua kabupaten tersebut berpotensi sebagai sumber penularan filariasis, sekaligus sebagai sumber agen zoonosis pada kasus dirofilariasis. Pemantauan secara rutin dan terintegrasi serta kolaborasi antar stake holder lintas program harus terus dilakukan untuk memutus mata rantai penularan filariasis dan menghambat terjadinya penularan zoonosis dari dirofilariasis.

References

Taylor MJ, Hoerauf A, Bockarie M. Lymphatic filariasis and onchocerciasis. Lancet. 2010;376(9747):1175–85.

Simón F, Siles-Lucas M, Morchón R, González-Miguel J, Mellado I, Carretón E, et al. Human and animal dirofilariasis: The emergence of a zoonotic mosaic. Clin Microbiol Rev. 2012;25(3):507–44.

Kronefeld M, Kampen H, Sassnau R, Werner D. Molecular detection of Dirofilaria immitis, Dirofilaria repens and Setaria tundra in mosquitoes from Germany. Parasites and Vectors. 2014;7(1):1–6.

Fuehrer HP, Auer H, Leschnik M, Silbermayr K, Duscher G, Joachim A. Dirofilaria in Humans, Dogs, and Vectors in Austria (1978–2014)—From Imported Pathogens to the Endemicity of Dirofilaria repens. PLoS Negl Trop Dis. 2016;10(5):1–13.

Pai VH, Kusumgar P, Pai K. Subcutaneous dirofilariasis of the eyelid in a 7-month-old infant. J Pediatr Ophthalmol Strabismus. 2015;52 Online:e14—6.

Dóczi I, Bereczki L, Gyetvai T, Fejes I, Skribek Á, Szabó Á, et al. Description of five dirofilariasis cases in South Hungary and review epidemiology of this disease for the country. Wien Klin Wochenschr. 2015 Sep;127(17):696–702.

Pusdatin. Situasi filariasis di Indonesia tahun 2015. Infodatin. 2016;8.

Van den Berg H, Kelly-Hope LA, Lindsay SW. Malaria and lymphatic filariasis: the case for integrated vector management. Lancet Infect Dis. 2013;13(1):89–94.

Meliyanie G, Andiarsa D. Program Eliminasi Lymphatic Filariasis di Indonesia. J Heal Epidemiol Commun Dis. 2017;3(2):63–70.

Assady M, Nazaruddin, Aliza D, Hamdani, Aisyah S, Rosmaidar. Prevalence of Dirofilariasis on Local Dogs ( Canis domestica ) in Lhoknga Aceh Besar Using Phatological Anatomy Method. J Med Vet. 2016;10(2):109–11.

Untung S, Nalim S. Aspek zoonotik parasit nematoda pada kera dan binatang mengerat di Bengkulu, Sumatera. Indonesia. Bull Penelit Kesehat. 1982;X(2):1–7.

He S, Satrija F. Dirofilaria Immitis (Leidy, 1856) dalam jantung anjing yang diseksi di fakultas kedokteran hewan institut pertanian bogor. Hemera Zoa. 1993;77(1):39–46.

Rahayu N, Nuhung H, Suryatinah Y, Andiarsa D, Paisal, Annida, et al. Studi evaluasi eliminasi filariasis di Indonesia tahun 2017: Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Hulu Sungai Utara. Batulicin; 2017.

Levy PS, Lemeshow S. Sampling of populations Methods and applications. Fourth. Grovers RM, Kalton G, J.N.K.Rao, Schwarz N, Skinner C, editors. Hoboken, New Jersey: John Wiley & Son Inc.; 2008.

World Health Organization. Bench Aids for the diagnosis of filarial infections. World Health Organization. Geneva, Switzerland: World Health Organization; 1997. p. 15.

Bulgheroni M, A. C-C, Straulino E, Enrico LS, Castielloe DU, 359. H (2017) 20: Selective reaching in macaques: evidence for action-centred attention. Anim Cogn. 2017;20(2):359–66.

Liadi F. Penelusuran sistem kepercayaan Suku Dohoi (anak suku Ot Danum) di Tumbang Samba Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah. PALITA. 2017;2(2):129–44.

Koudou BG, de Souza DK, Biritwum N-K, Bougma R, Aboulaye M, Elhassan E, et al. Elimination of lymphatic filariasis in west African urban areas: is implementation of mass drug administration necessary? Lancet Infect Dis. 2018;18(6):e214–20.

Supriyono S, Tan S, Hadi UK. Perilaku Nyamuk Mansonia dan Potensi Reservoar dalam Penularan Filariasis di Desa Gulinggang Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan. Aspirator. 2017;9(1):1–10.

Mak JW, Yen PKF, Lim KC, Ramiah N. Zoonotic implication of cats and dogs in filarial transmission in Peninsular Malaysia. Trop Geogr Med. 1980;32:259–64.

Lane-deGraaf KE, Putra IGAA, Wandia IN, Rompis A, Hollocher H, Fuentes A. Human behavior and opportunities for parasite transmission in communities surrounding long-tailed macaque populations in Bali, Indonesia. Am J Primatol. 2014;76(2):159–67.

Suryaningtyas NH, Arisanti M, Satriani AV, Inzana N, Santoso, Suhardi. Kondisi Masyarakat pada Masa Surveilans Pasca- Transmission Assesment Survey ( TAS ) -2 Menuju Eliminasi Filariasis di Kabupaten Bangka Barat , Bangka Belitung. Bul Penelit Kesehat. 2018;46(1):35–44.

Arnold ML. Natural hybridization and the evolution of domesticated, pest and disease organisms. Mol Ecol. 2004;13(5):997–1007.

Published
2018-12-28
How to Cite
1.
Andiarsa D, Hairani B, Fadilly A. Brugia malayi dan Dirofilaria spp sebagai penyebab Filariasis pada hewan reservoir di daerah endemis di Kalimantan. jhecds [Internet]. 28Dec.2018 [cited 21Sep.2020];4(1):24-0. Available from: https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/jhecds/article/view/367