ANALISIS ZAT BESI, ZINK, DAN KALSIUM PADA FORMULA POLIMERIK UNTUK PENCEGAHAN STUNTING

  • Hendrayati Hendrayati Poltekkes Kemenkes Makassar
  • Adriyani Adam Poltekkes Kemenkes Makassar
  • Sunarto Sunarto Poltekkes Kemenkes Makassar
Keywords: kalsium, zat besi, formula polimerik, zink

Abstract

Latar Belakang. Faktor asupan zat gizi, zat gizi makro, zat gizi mikro, dan kejadian infeksi merupakan faktor langsung yang dapat menyebabkan kejadian stunting pada balita. Sumber nutrisi yang memenuhi persyaratan kuantitatif dan kualitatif dapat digunakan untuk memperbaiki asupan. Pola pemberian makan pada anak memerlukan cara tertentu agar menarik dan mudah dicerna. Formula polimerik merupakan makanan mudah dicerna, siap saji, dan siap olah. Formula polimerik dengan komposisi makronutrien seperti protein, karbohidrat, lipid dalam bentuk utuh, vitamin lengkap, dan mineral telah dikembangkan dalam penelitian ini. Formula polimerik yang dikembangkan memiliki densitas energi tinggi yaitu 1,5–2 Kkal/mL. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan zink, zat besi, dan kalsium sebagai sumber mineral yang potensial dalam mendukung pencegahan dan penanggulangan stunting pada balita. Metode. Penelitian ini menggunakan one shot case study design sebagai pre experimental design. Penelitian ini dilakukan selama empat bulan. Analisis kandungan zink, zat besi, dan kalsium menggunakan metode 18–13–1/MU/SMM–SIG (ICP OES):18–13–1/MU/SMM-SIG (ICP OES) dan 18–13–1/MU/SMM-SIG (ICP OES) pada PT Saraswanti Indo Genetech (PT SIG) Laboratory, Bogor, Jawa Barat untuk empat formulasi formula polimerik. Hasil. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar zink tertinggi 3,05 mg memenuhi 100 persen angka kecukupan gizi (AKG) kebutuhan balita. Pada anak usia 4–6 tahun, kandungan zat besi tertinggi 6,66 mg memenuhi 66,6 persen AKG dan kandungan kalsium tertinggi 308,36 memenuhi 30,8 persen AKG balita. Kesimpulan. Formula polimerik mengandung zink, zat besi, dan kalsium yang bervariasi pada keempat formulasi. Formula polimerik yang direkomendasikan untuk pencegahan stunting adalah formula tiga dengan kandungan zink dan kalsium tertinggi serta zat besi.

References

Bappenas. Rencana Aksi Pangan dan Gizi. Jakarta. Bappenas; 2011.

World Health Organization. WHA Global Nutrition Targets 2025: Stunting Policy Brief. Policy Brief. Geneva: WHO; 2014.

Santi MW, Triwidiarto C, Syahniar TM, Firgiyanto R, Andriani M. Peningkatan Pengetahuan Kader Posyandu dalam Pembuatan PMT Berbahan Dasar Kelor sebagai Upaya Percepatan Pencegahan Stunting. Jurnal Ilmiah Pengembangan dan Penerapan IPTEKS. 2020;18(2):77–89.

Mikail WZA, Sobhy HM, El-sayed HH, Khairy SA, Salem HYHA, Samy MA. Effect of Nutritional Status on Growth Pattern of Stunted Preschool Children in Egypt. Acad. J. Nutr. 2013;2(1):1–9.

Souganidis E. The Relevance of Micronutrients to The Prevention of Stunting. Sight and Life Magazine. 2012;26(2):10–8.

Stuijvenberg MEV, Nel J, Schoeman SE, Lombard CJ, Plessis LMD, Dhansay MA. Low Intake of Calcium and Vitamin D, but not Zinc, Iron or Vitamin A, is Associated with Stunting in 2–5 years Old Children. Nutrition. 2015;31(6):841–6.

Khairy SAM, Mattar MK, Refaat LAM, El-Sherbeny SA. Plasma Micronutrient Levels of Stunted Egyptian School Age Children. Kasr El Aini Med J. 2010;16(1):1–5.

Damayanti AR, Lailatul M, Farapti. Perbedaan Tingkat Kecukupan Zat Gizi dan Riwayat Pemberian ASI Eksklusif pada Balita Stunting dan Non Stunting. Media Gizi Indonesia. 2016;11(1):61–8.

Ibrahim M, Mansour M, El Gendy YG. Peptide-Based Formula versus Standard Based Polymeric Formula for Critically Ill Children: Is It Superior For Patients’ Tolerance. Arc Med SCI. 2020;16(3):592–6.

Kementerian Kesehatan RI. Petunjuk Teknis Pemberian Makanan Tambahan (Balita–Ibu Hamil–Anak Sekolah). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2017.

Hardani M, Zuraida R. Penatalaksanaan Gizi Buruk dan Stunting pada Balita Usia 14 Bulan dengan Pendekatan Kedokteran Keluarga. Medula. 2019;9(3): 565–75.

Tashadella FI. Makanan Tambahan Untuk Anak Usia 12-24 Bulan Ditinjau dari Sifat Fisik Organoleptik Kandungan Gizi dan Daya Terima. Naskah Publikasi. Yogyakarta: Prodi D IV Gizi, Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Yogyakarta, 2017.

Maulidah WB, Rohmawati N, Sulistiyani. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita di Desa Panduman Kecamatan Jelbuk Kabupaten Jember. Ilmu Gizi Indonesia. 2019;2(2):89–100.

Astuti DP, Utami W, Sulastri E. Pencegahan Stunting Melalui Kegiatan Penyuluhan Gizi Balita dan Pemberian Makanan Tambahan Berbasis Kearifan Lokal di Posyandu Desa Madureso. Proceeding of The 11th University Research Colloquium 2020: Bidang Pengabdian Masyarakat. 2020: 74–9.

Adelasanti AN, Rakhma LR. Hubungan Antara Kepatuhan Konsumsi Pemberian Makanan Tambahan Balita dengan Perubahan Status Gizi Balita di Puskesmas Pucangsawit Surakarta. Jurnal Dunia Gizi. 2018;1:92–100.

Soetjiningsih.Tumbuh Kembang Anak. Edisi 3. Jakarta: EGC; 2013.

Muqni AD, Hadju V, Jafar N. Hubungan Berat Badan Lahir dan Pelayanan KIA terhadap Status Gizi Anak Balita di Kelurahan Tamamaung Makassar. Media Gizi Masyarakat Indonesia. 2012;1(2):109–16.

Arifin DZ, Irdasari SY, Sukandar H. Analisis Sebaran dan Faktor Risiko Stunting pada Balita di Kabupaten Purwakarta 2012. diunduh dari: http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2013/07/pustaka_unpad_analisis_sebaran_dan_faktor_risiko_stunting.pdf, tanggal: 10 September 2021.

Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. Edisi 2. Jakarta: EGC; 2009.

Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. Edisi 1. Jakarta: EGC; 2004.

Sitepoe. ASI Eksklusif. Edisi 1. Jakarta: PT Indeks; 2013.

Arifariki LO. Gizi Anak dan Stunting. Edisi 1. Yogyakarta: CV Fawwas Mediacipta; 2020.

Syed S, Manji KP, McDonald CM, Kisenge R, Aboud S, Sudfeld C, et al. Biomarkers of Systemic Inflammation and Growth in Early Infancy are Associated with Stunting in Young Tanzanian Children. Nutrients. 2018;10(9):1–14.

WHO. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Jakarta: WHO ; 2007.

Kusumawati E, Rahardjo S, Sari HP. Model Pengendalian Faktor Risiko Stunting pada Anak Bawah Tiga Tahun. Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. 2015;9(3):249–56.

WHO. Infection Prevention and Control of Epidemic and Pandemic Prone Acute Respiratory Infections in Health Care. Geneva: WHO; 2014.

Udin MF. Penyakit Respirasi pada Anak. Edisi 1. Malang: UB Press; 2019.

Desyanti C, Nindya TS. Hubungan Riwayat Penyakit Diare dan Praktik Higiene dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Simolawang, Surabaya. Amerta Nutr. 2017;1(3):243–51.

Himawati EH, Fitria L. Hubungan Infeksi Saluran Pernapasan Atas dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia di Bawah 5 Tahun di Sampang. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia. 2020;15(1):1–5.

Published
2021-12-06
How to Cite
1.
Hendrayati H, Adam A, Sunarto S. ANALISIS ZAT BESI, ZINK, DAN KALSIUM PADA FORMULA POLIMERIK UNTUK PENCEGAHAN STUNTING. mgmi [Internet]. 6Dec.2021 [cited 6Oct.2022];13(1):51-0. Available from: https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/mgmi/article/view/5315