Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 2019-04-15T14:30:01SE Asia Daylight Time Sekretariat Media Litbangkes Open Journal Systems <p><strong>ISSN Media Cetak : 0853-9987</strong> <br> <strong>ISSN Media Elektronik : 2338-3445</strong></p> <p>Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Media of Health Research and Development) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia .<br>Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.</p> <p>Media of Health Research and Development currently has been registered on the sites: <a href="" target="_blank" rel="nofollow noopener">Indonesian Scientific Journal Database</a>; <a href=";mod=viewjournal&amp;journal=4883" target="_blank" rel="nofollow noopener">Indonesian Publication Index</a>; <a href=";id=0" rel="nofollow">Directory of Research Journals Indexing</a>; <a href="" rel="nofollow">getCITED;</a> <a href="{%22query%22%3A{%22filtered%22%3A{%22filter%22%3A{%22bool%22%3A{%22must%22%3A[{%22term%22%3A{%22_type%22%3A%22journal%22}}]}}%2C%22query%22%3A{%22query_string%22%3A{%22query%22%3A%22media%20penelitian%20dan%20pengembangan%20kesehatan%22%2C%22default_operator%22%3A%22AND%22}}}}%2C%22from%22%3A0%2C%22size%22%3A10}#.UrPuLeIpWkw" target="_blank" rel="nofollow noopener">Directory of Open Access Journals</a>; <a href=";btnG=&amp;hl=en&amp;as_sdt=0%2C5" rel="nofollow">Google Scholar</a>; <a href="" target="_blank" rel="nofollow noopener">Open Academic Journals Index</a>; <a href="" rel="nofollow">International Society of Universal Research in Sciences</a>; <a href=";type=all&amp;ling=1&amp;name=&amp;thes=&amp;refid=dcresen&amp;newsearch=1" rel="nofollow">Bielefeld Academic Search Engine</a> (BASE); <a href=";subAction=pub&amp;publisherID=2692&amp;journalID=28981&amp;pageb=1&amp;userQueryID=3766&amp;sort=&amp;local_page=1&amp;sorType=&amp;sorCol=1" rel="nofollow">JournalTOCs</a>; and <a href="" target="_blank" rel="nofollow noopener">Citefactor</a>. Media of Health Research and Development is being reviewed by <a href="" target="_blank" rel="nofollow noopener">Universal Impact Factor</a>.</p> <p>During 2014 Media Health Research and Development has published 28 research and review articles.</p> <p>See Google Scholar Profile for Media Health Research and Development by <a href="" target="_blank" rel="nofollow noopener">clicking here</a>.</p> <ul> <li class="show">Total Citations : 706</li> <li class="show">Total Documents : 698</li> <li class="show">h-index : 10</li> <li class="show">i10-index : 10</li> </ul> Front Matter Vol 29 No 1 2019-04-14T05:13:15SE Asia Daylight Time safrizal safrizal 2019-04-14T05:03:52SE Asia Daylight Time ##submission.copyrightStatement## Pelaksanaan Registrasi Kematian dan Penyebab Kematian di Kota Ambon Tahun 2014 2019-04-14T05:27:34SE Asia Daylight Time Eva Sulistiowati Kartika Handayani <p><em><strong>Abstract</strong> </em><br><em>The registration system of death and cause of death as part of a good Civil Registration and Vital Statistics System (CRVS) form the basis for planning, monitoring and evaluating development programs. Ambon City as one of the development areas for recording death and causes of death since 2010 shows results that are still under-estimated (below 7 permill). Evaluation of the implementation process is needed to find out the obstacles. The qualitative methods include in-depth interviews, Focus Group Discussion (FGD) and collecting secondary data as supporting data. The analysis is part of the Comprehensive Evaluation Study on the Development of the Death Registration System and the Causes of Death in 14 districts/cities in Indonesia in 2014, carried out by triangulation and thematically compiled. The results obtained that the system of birth and death registration in the city of Ambon is already well-organized: there are regional regulations regarding the administration of population administration even though they have not included information on causes of death; the difference in vital registration data from various agencies; limited human resources, funds, facilities and infrastructure; and public awareness to report births/deaths still low. To increase the coverage of death registration and causes of death, it is necessary: local government regulations that include the cause of death; formation of joint committees and “one data” vital statistics; Autopsy Verbal (AV) workshop/training; utilization of funds from the Regional Revenue and Expenditure Budget and Health Operational Costs optimally; cooperation with community leaders (Muhabet) and socialization to the community.</em></p> <p>Abstrak</p> <p>Sistem registrasi kematian dan penyebab kematian sebagai bagian dari Sistem Registrasi Sipil dan Statistik Vital (Civil Registrations and Vital Statistics/CRVS) yang baik menjadi dasar untuk perencanaan, monitoring, dan evaluasi program pembangunan. Kota Ambon sebagai salah satu daerah pengembangan kegiatan pencatatan kematian dan penyebab kematian sejak tahun 2010, menunjukkan hasil yang masih under estimate (dibawah 7 permil). Evaluasi proses pelaksanaan diperlukan untuk mengetahui kendala yang dihadapi. Metode yang digunakan kualitatif meliputi wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD) dan mengumpulkan data sekunder sebagai data pendukung. Analisis merupakan bagian dari Studi Evaluasi Menyeluruh Pengembangan Sistem Registrasi Kematian dan Penyebab Kematian di 14 kabupaten/kota di Indonesia Tahun 2014, dilakukan dengan triangulasi dan disusun secara tematik. Hasil yang diperoleh bahwa sistem pencatatan kelahiran dan kematian di Kota Ambon sudah tersistem dan tertata cukup baik, ada peraturan daerah tentang penyelenggaraan administrasi kependudukan walaupun belum mencakup keterangan penyebab kematian; adanya perbedaan data registrasi vital dari berbagai instansi; keterbatasan sumber daya manusia, dana, sarana prasarana; serta kesadaran masyarakat untuk melaporkan kejadian kelahiran/kematian yang masih rendah. Untuk meningkatkan cakupan registrasi kematian dan penyebab kematian, diperlukan: regulasi pemerintah daerah yang menyertakan penyebab kematian; pembentukan komite bersama dan “one data” statistik vital; workshop/pelatihan Autopsy Verbal (AV); pemanfaatan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Biaya Operasional Kesehatan (BOK) secara optimal; kerjasama dengan tokoh masyarakat (Muhabet), dan sosialisasi kepada masyarakat.</p> 2019-04-14T04:36:32SE Asia Daylight Time ##submission.copyrightStatement## Karakteristik Kegagalan Imunisasi Lengkap di Indonesia (Analisis Data Riskesdas Tahun 2013) 2019-04-14T05:28:16SE Asia Daylight Time Olwin Nainggolan Dwi Hapsari T Lely Indarwati <p><em><strong>Abstract</strong> </em><br><em>Failure to immunization can cause serious implications for a child’s life and the health of the surrounding children.The aim of study was to assess the characteristic of children, parents and families in children who failed to obtain complete immunization. Another additional objective is to see the timeliness of each type of immunization, including HB0, BCG, DPT-HB Combo, Polio and Measles. Samples were children aged 12 to 23 months who were samples in the 2013 Riskesdas and then children’s data was merged with data on the characteristic of mothers, fathers and families. Furthermore, the history of immunization of children will be analyzed by univariate, bivariate and multivariate. Immunization data analyzed are children with immunization records and family memories. The results showed that children who do not have KMS (immunization cards), KIA (mother and child card) and other immunization records, birth places in not health facilities, birth order &lt;2, low education of fathers and mothers, poor families, live in rural areas and the number of children under five ≥3, have more immunization failure high of. The highest proportion of timeliness was in HB0 immunization and the lowest in DPT-HB Combo3 and Polio immunization 4. Multivariate analysis results showed that the variables that had the most influence on immunization failure were card ownership with OR 3.08 (95% CI 2,70-3.50) as well as in child birth in health facilities with OR 2.83 (95% CI 2.50-3.21). The most timely type of immunization with 91.0% punctually and the most inaccurate time is DPT-HB Combo 3 immunization with a proportion of timeliness of only 1.1%. More massive screening to increase the percentage of specific timeliness to immunize DPT-HB-Combo3 and Polio 4 types to to minimize immunization failure.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong> <br>Kegagalan imunisasi dapat menyebabkan implikasi yang serius pada kehidupan seorang anak serta kesehatan anak disekitarnya. Tujuan penelitian adalah untuk menilai karakteristik anak, orang tua serta keluarga pada anak yang gagal memperoleh imunisasi secara lengkap. Tujuan tambahan lainnya adalah melihat ketepatan waktu masing-masing jenis imunisasi baik HB0, BCG, DPT-HB Combo, Polio serta Campak. Sampel adalah anak usia 12 sampai dengan 23 bulan yang menjadi sampel Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dan kemudian data anak dilakukan proses merge dengan data karakteristik ibu, ayah, dan keluarga. Selanjutnya data riwayat imunisasi anak akan dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Data imunisasi yang dianalisis adalah anak yang mempunyai catatan imunisasi serta ingatan keluarga. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang tidak memiliki kartu KMS, KIA, dan catatan imunisasi, tempat kelahiran di non fasilitas kesehatan urutan kelahiran≤ 2, pendidikan ayah dan ibu rendah, keluarga miskin, tinggal di perdesaan dan jumlah balita ≥3, memiliki proporsi kegagalan imunisasi yang lebih tinggi. Proporsi ketepatan waktu paling tinggi ada pada imunisasi HB0 dan yang paling rendah pada jenis imunisasi DPT-HB Combo3 dan Polio 4. Analisis multivariat menunjukan bahwa variabel yang sangat berpengaruh terhadap kegagalan imunisasi adalah kepemilikan kartu dengan OR 3,08 (95% CI 2,70-3,50) serta kelahiran anak di fasilitas kesehatan dengan OR 2,83 (95% CI 2,50-3,21). Jenis imunisasi yang paling tepat waktu adalah imunisasi HB0 dengan ketepatan waktu 91,0% dan yang paling tidak tepat waktu adalah imunisasi DPT-HB Combo 3 dengan proporsi ketepatan waktu hanya sebesar 1,1%. Penjaringan yang lebih masif untuk meningkatkan presentase ketepatan waktu khususnya kepada imunisasi jenis DPT-HB-Combo3 dan Polio 4 untuk memperkecil kegagalan imunisasi.</p> 2019-04-14T00:00:00SE Asia Daylight Time ##submission.copyrightStatement## Hubungan Pemberian Air Susu Ibu (ASI) dengan Riwayat Sakit Bayi 0–6 bulan di Indonesia (Analisis Data Riskesdas 2013) 2019-04-14T05:28:51SE Asia Daylight Time Amir Suudi A Muchtar Nasir Nida Rohmawati Sudarto Ronoatmodjo <p><em><strong>Abstract</strong> </em></p> <p><em>Many factors are associated with illness of infant 0-6 months. The objective of this study is to know the association between exclusive breastfeeding and illness of infants 0-6 months in Indonesia. This study uses secondary data from cross sectional survey of Basic Health Research (Riskesdas) in 2013, with a sample of 5,017 infant 0-6 months. Results showed the prevalence of infants who are exclusively breastfed was 30,24%, the prevalence of was 18.24%, the prevalence of illness among non-exclusive breastfeeding infants was 19.57%, the prevalence of illness among exclusive breastfeeding infants was 15,16%. Analyze of Cox regression show that crude prevalence ratio (PR) of illness among non-exclusive breastfeeding compared with PR of illness among exclusive breastfeeding infants was 1.29 (95% CI 1.13-1.48), and PR of illness among non-exclusive breastfeeding compared with PR of illness among exclusive breastfeeding infants adjusted by mother’s education level was 1,29 (95% CI 1.05-1.41). Conclusions, infants 0-6 months who are not exclusively breastfed have 1.29 times higher risk of getting illness compared with who receive exclusive breastfeeding, adjusted by mother’s education level. It is recommended to increassing efforts to give exclusive breastfeeding infants as early as possible until six months, with increassing knowledge of mother and commitment of stakeholder to completed equipment of early breastfeeding initiation.</em></p> <p><strong>Abstrak </strong></p> <p>Banyak faktor yang berhubungan dengan kejadian sakit bayi, salah satunya pemberian air susu ibu (ASI). Untuk mengetahui hubungan antara pemberian ASI terhadap riwayat sakit pada bayi 0-6 bulan di Indonesia, maka dilakukan penelitian menggunakan data sekunder hasil survei cross sectional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, dengan sampel sebanyak 5.017 bayi 0-6 bulan. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi bayi 0-6 bulan yang mendapat ASI esklusif sebesar 30,24% dengan prevalensi sakit sebesar 18,24%. Prevalensi sakit pada bayi yang tidak diberikan ASI ekslusif sebesar 19,57%, sedangkan prevalensi sakit pada bayi yang diberikan ASI eksklusif sebesar 15,16%. Analisis regresi Cox menunjukkan bahwa rasio prevalensi kasar antara bayi sakit yang tidak mendapat ASI eksklusif dengan yang mendapat ASI eksklusif sebesar 1,29 (95% CI 1,13-1,48). Rasio prevalensi antara bayi sakit yang tidak mendapat ASI eksklusif dengan yang mendapat ASI eksklusif setelah dikontrol variabel pendidikan ibu sebesar 1,29 (95%CI 1,05-1,41). Kesimpulannya, bayi 0-6 bulan yang tidak mendapat ASI eksklusif memiliki risiko sakit sebesar 1,29 kali dibandingkan yang mendapat ASI eksklusif, setelah dikontrol oleh variabel pendidikan ibu. Disarankan adanya peningkatan upaya pemberian ASI eksklusif pada bayi baru lahir sedini mungkin hingga enam bulan, dengan meningkatkan pengetahuan ibu dan komitmen stakeholder melengkapi perlengkapan praktek inisiasi menyusui dini (IMD).</p> 2019-04-14T04:37:50SE Asia Daylight Time ##submission.copyrightStatement## Pengembangan Modul Konseling Alat Kontrasepsi dalam Rahim (AKDR) bagi Bidan 2019-04-14T05:29:30SE Asia Daylight Time Ferina Ferina Benny Hasan Purwara Elsa Pudji Setiawati Hadi Susiarno Muniroh Abdurrahman Hadyana Sukandar <p><em><strong>Abstract</strong> </em></p> <p><em>T</em><em>he participation of IUD contraception has not reached a satisfactory rate. The factor that caused this because acceptors did not receive side-effects, fears of sexual intercourse disorders and the risk of malignancy. Lack of information through counseling causes this problems. It caused the ability of midwives to do counseling is still low. The counseling guide available on the form of Family Planning Decision Making Tools (ABPK) with the form of structured counseling has not been able to encourage midwives to conduct counseling properly. Too many ABPK sheets make it difficult for midwives to apply counseling practices. The aim of this study was to develop a IUD counseling module. The research design used was exploratory qualitative with a narrative approach. Samples were selected by purposive sampling, consisting of two counseling experts, three obstetricians experts, three experts from midwifery person from an Indonesian language expert, eight midwives practitioners and eight women of reproductive age. Data was collected by in-depth interviews of experts. Data were processed through the stages of transcription, reduction, coding, categorization to form a theme. The theme obtained was then developed into a draft module with a narrative literature review approach to produce a draft module for IUD counseling. The validity test of qualitative data was carried out by triangulation through midwife group discussions, discussion groups of fertile age women, and expert judgement in April to July 2017. The results of this study are a prototype of the IUD counseling module that can be applied as a guide for midwives because this module does not only contain how the technique of counseling, what will be conveyed in counseling and what distinguishes it from the previous module, in this module there is preparation that strengthens an important midwife to carry out counseling.</em></p> <p><strong>Abstrak </strong></p> <p>Keikutsertaan kontrasepsi Alat Kontrasepsi dalam Rahim (AKDR) hingga saat ini belum memuaskan. Faktor yang menyebabkan diantaranya akseptor tidak menerima efek samping, khawatir gangguan hubungan seksual, dan risiko keganasan. Informasi melalui konseling yang kurang berkualitas menyebabkan masalah tersebut. Hal ini terjadi karena kemampuan bidan melakukan konseling masih rendah. Panduan konseling berupa Alat Bantu Pengambilan Keputusan ber-KB (ABPK) dengan bentuk konseling terstrukur belum mampu mendorong bidan melakukan konseling dengan baik. Lembar ABPK yang terlalu banyak menyulitkan bidan untuk konseling. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan modul konseling AKDR. Desain penelitian ini adalah exploratory qualitative dengan pendekatan naratif. Sampel dipilih dengan purposive sampling, terdiri dari 2 pakar konseling, 3 pakar Keluarga Berencana (KB)-dokter spesialis obstetri dan ginekologi, 3 pakar bidan, 1 pakar bahasa Indonesia, 8 praktisi bidan dan 8 Wanita Usia Subur (WUS). Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam untuk mendapatkan penjelasan yang memadai dari pakar. Data diolah melalui tahap transkripsi, reduksi, koding, kategorisasi hingga terbentuk tema. Tema yang diperoleh kemudian dikembangkan menjadi draf modul dengan pendekatan narrative literature review hingga dihasilkan draf modul konseling AKDR. Uji keabsahan data kualitatif dilakukan dengan triangulasi melalui diskusi kelompok bidan, diskusi kelompok WUS, dan expert judgement pada bulan April-Juli 2017. Hasil penelitian ini berupa prototipe modul konseling AKDR yang dapat diterapkan untuk menjadi panduan bagi bidan karena modul ini tidak hanya berisi bagaimana teknik konseling, informasi yang disampaikan dalam konseling dan yang membedakan dengan modul sebelumnya, dalam modul ini terdapat persiapan yang menguatkan seorang bidan penting melaksanakan konseling.</p> 2019-04-14T00:00:00SE Asia Daylight Time ##submission.copyrightStatement## Karakteristik Pasien Demam Berdarah Dengue pada Instalasi Rawat Inap RSUD Kota Prabumulih Periode Januari–Mei 2016 2019-04-14T05:30:13SE Asia Daylight Time Rika Mayasari Hotnida Sitorus Milana Salim Surakhmi Oktavia Yanelza Supranelfy Tri Wurisastuti <p><em><strong>Abstract</strong> </em><br><em>Dengue hemorrhagic fever is an acute epidemic disease that requires a good and complete clinical examination accompanied by an accurate laboratory examination if clinical symptoms are inadequate. The delays in diagnosis results in an increased risk of death. Hospital facilities and health workers are very influential in the recovery of patients with dengue fever. . This scientific paper presents the characteristics of patients (gender, age, temperature, leukocytes, hematocrit, platelets, hemoglobin) in patient of dengue fever in Prabumulih City Hospital. Data analysis was performed on medical record data of patients with dengue fever who were hospitalized in January-May 2016 at Prabumulih City Hospital. This type of research is descriptive analytic with retrospective design. The data discussed is the result of observing the patient’s clinical condition from the first day to the eighth day. The majority of DHF patients are female with the most age groups at 0-4 years. The body temperature of the highest DHF patients on day 1 was 39.80 C and on the eighth day showed a normal temperature of 36.50 C. The lowest hematological value on day 1 was leukocytes of 1,600 cells/mm3 , hematocrit was 27.9%, platelets were 8,000 cells / mm3 , hemoglobin 9.4 gram / dL. The lowest hematological value on the last six days of treatment is 5,600 cell / mm3 leukocytes, 27.9% hematocrit, 74,000 cell / mm3 platelets, 9.7 gram/dL hemoglobin. Hematological values for normal leukocytes and platelets while platelets and hemoglobin did not approach normal values.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit epidemik akut yang memerlukan pemeriksaan klinis yang baik dan lengkap disertai pemeriksaan laboratorium yang akurat jika gejala klinis tidak memadai. Keterlambatan dalam diagnosis mengakibatkan peningkatan risiko kematian. Fasilitas rumah sakit dan tenaga kesehatan sangat berpengaruh dalam kesembuhan pasien demam berdarah. Naskah ilmiah ini menyajikan karakteristik pasien (jenis kelamin, umur, suhu, leukosit, hematokrit, trombosit, dan hemoglobin) rawat inap demam berdarah di RSUD Kota Prabumulih. Analisa data dilakukan terhadap data rekam medis pasien demam berdarah yang rawat inap bulan Januari-Mei 2016 di RSUD Kota Prabumulih. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan desain retrospektif. Data yang dibahas adalah hasil pengamatan keadaan klinis pasien mulai pada hari pertama hingga hari ke delapan. Mayoritas pasien DBD berjenis kelamin perempuan dengan kelompok umur terbanyak pada 0-4 tahun. Suhu tubuh pasien DBD tertinggi pada hari ke 1 adalah 39,80 C dan pada hari ke delapan menunjukkan suhu normal yaitu 36,50 C. Nilai hematologi terendah pada hari ke 1 yaitu leukosit sebesar 1.600 sel/mm3 , hematokrit 27,9%, trombosit 8.000 sel/mm3 , hemoglobin 9,4 gram/dL. Nilai hematologi terendah pada hari ke enam terakhir perawatan yaitu leukosit 5.600 sel/mm3 , hematokrit 27,9%, trombosit 74.000 sel/mm3 , hemoglobin 9,7 gram/dL. Nilai hematologi untuk leukosit dan trombosit normal sedangkan trombosit dan hemoglobin tidak mendekati nilai normal.</p> 2019-04-14T00:00:00SE Asia Daylight Time ##submission.copyrightStatement## Kajian Tumbuhan Obat yang Banyak Digunakan untuk Aprodisiaka oleh Beberapa Etnis Indonesia 2019-04-14T05:30:53SE Asia Daylight Time Fauzi Fauzi Sari Haryanti <p><strong><em>Abstract </em></strong></p> <p><em>Sexual disorders in men can cause depression, stress, unable to have children so thatit disrupts family harmony. To overcome this problem, various ethnic groups from generation to generation utilize the plants around them. Any substance that arousing sexual desire or libido is known as aphrodisiac. This article aims to find out the types of plants and plants that are often used by various ethnic groups in Indonesia for aphrodisiacs. Data were obtained from Data Management Laboratory of NIHRD Republic of Indonesia. The method was carried out through literature review with searches from various references and analysis of data from community-based ethnomedicine and medicinal plant sexploration activities in Indonesiain 2012, 2015, and 2017. Based on data analysis, it was identified 204 types of plants used for aphrodisiacs included in 78 families. There are five families of plants that are widely used, namely Zingiberaceae, Euphorbiaceae, Arecaceae, Fabaceae, and Rubiaceae. The type of plant that is often used isImperata cylindrica (L.) Raeusch. (19 ethnicities), Zingiber officinale Roscoe. (used in 17 ethnicities) Areca catechu L. (14 ethnicitiies), Eurycoma longifolia Jack. (10 ethnicities), and Piper nigrum L. (9 ethnicities). Based on literature studies, plants that have been carried out pre-clinical testing as aphrodisiacs are Zingiber officinale Roscoe., Eurycoma longifolia Jack, and Piper nigrum</em></p> <p>Abstrak</p> <p>Gangguan seksual pada pria dapat menyebabkan depresi, stres, dan tidak dapat memiliki keturunan sehingga mengganggu keharmonisan rumah tangga. Untuk mengatasai masalah tersebut, berbagai etnis di Indonesia secara turun temurun memanfaatkan tumbuhan di sekitar mereka. Suatu bahan yang memiliki efek membangkitkan gairah seksual atau libido dikenal dengan sebutan aprodisiaka. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui golongan famili dan jenis tumbuhan yang sering digunakan berbagai etnis di Indonesia untuk aprodisiaka. Data diperoleh dari Laboratorium Manajeman Data, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI. Metode dilakukan melalui tinjauan literatur dengan penelusuran dari berbagai referensi dan analisis data hasil kegiatan eksplorasi pengetahuan lokal etnomedisin dan tumbuhan obat berbasis komunitas di Indonesia yang dilaksanakan pada tahun 2012, 2015, dan 2017. Berdasarkan analisis data, teridentifikasi 204 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan untuk aprodisiaka yang termasuk ke dalam 78 famili. Terdapat lima famili tumbuhan yang banyak digunakan, yaitu Zingiberaceae, Euphorbiaceae, Arecaceae, Fabaceae, dan Rubiaceae. Jenis tumbuhan yang sering digunakan adalah Imperata cylindrica (L.) Raeusch. (digunakan oleh 19 etnis), Zingiber officinale Roscoe. (17 etnis), Areca catechu L.(14 etnis), Eurycoma longifolia Jack. (10 etnis), dan Piper nigrum L. (9 etnis). Berdasarkan studi literatur, tumbuhan yang sudah dilakukan uji praklinik sebagai aprodisiaka adalah Zingiber officinale Roscoe, Eurycoma longifolia Jack, dan Piper nigrum L.</p> 2019-04-14T03:30:16SE Asia Daylight Time ##submission.copyrightStatement## Pemanfaatan Tumbuhan Famili Fabaceae untuk Pengobatan Penyakit Liver oleh Pengobat Tradisional Berbagai Etnis di Indonesia 2019-04-15T14:30:01SE Asia Daylight Time Harto Widodo Abdul Rohman Sismindari Sismindari <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Liver disease is one of the leading causes of death globally. Recently, its prevalence and mortality rate continue to increase. It was reported that Indonesia’s hepatitis prevalence was 1.2% in 2013. Indonesia is the world second largest megabiodiversity country and inhabited by 1,068 ethnicities. Both are assets to explore medicinal plants as well as local knowledge to overcome various diseases. Ethnomedicine research by the National Institute of Health Research and Development (NIHRD) of Republic of Indonesia in year of 2012, 2015, and 2017 resulted in local etnopharmacology and medicinal plants in Indonesia. One important information is data on the use of medicinal plants for the treatment of liver disease by traditional healers from various ethnic groups in Indonesia. Analysis of the information set shows that the most widely used plant species for the treatment of liver disease by battra are included in Fabaceae family. Therefore, further studies of the literature regarding the use of empirical, compound content, therapeutic activities and pharmacology of plant species are used as support or even correction for their use in the treatment of liver disease. Various properties as antibiotics (against viruses, bacteria, parasites, fungi), anti-inflammation, antioxidants, hepatoprotectors, and immunomodulators support the use of these species for the treatment of liver disease. Further research is needed to provide basic data on its use in traditional medicine, obtain and develop new drug compounds, and reveal broader use, not to mention toxic and anti-nutritional compounds. This information is expected to be useful for those who are involved in the ethnobotany, botany, pharmacognosy, and pharmacology fields.</em></p> <p>Abstrak</p> <p>Penyakit liver termasuk salah satu penyakit yang menjadi penyebab kematian utama secara global, dengan angka kematian terus mengalami peningkatan. Hepatitis merupakan salah satu penyakit liver, prevalensi di Indonesia pada tahun 2013 mencapai 1,2%. Sebagai negara megabiodiversitas nomor dua di dunia yang dihuni oleh 1.068 etnis/suku bangsa, Indonesia kaya akan tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai penyakit. Riset etnomedisin oleh Badan Litbang Kesehatan RI pada tahun 2012, 2015, dan 2017 menghasilkan metadata pengetahuan lokal etnofarmakologi dan tumbuhan obat Indonesia. Salah satu informasi pentingnya yaitu data pemanfaatan tumbuhan obat untuk pengobatan penyakit liver oleh pengobat tradisional (battra) dari berbagai etnis di Indonesia. Analisis terhadap set informasi tersebut menunjukkan bahwa spesies tumbuhan paling banyak digunakan untuk pengobatan penyakit liver termasuk dalam famili Fabaceae. Oleh karena itu, dilakukan studi literatur mengenai pemanfaatan empiris, kandungan senyawa, aktivitas terapeutik dan farmakologi spesies-spesies tumbuhan tersebut sebagai dukungan atau bahkan koreksi terhadap pemanfaatannya untuk pengobatan penyakit liver. Berbagai khasiat sebagai antibiotik (terhadap virus, bakteri, parasit, jamur), anti-inflamasi, antioksidan, hepatoprotektor, dan imunomodulator menyokong pemanfaatan spesies tersebut untuk pengobatan penyakit liver. Penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk memberikan data dasar penggunaannya dalam pengobatan tradisional, mendapat dan mengembangkan senyawa obat baru, serta mengungkap pemanfaatan yang lebih luas tak terkecuali pula terhadap senyawa toksik dan anti-nutrisi. Informasi ini diharapkan dapat bermanfaat bagi yang menggeluti bidang etnobotani, botani, farmakognosi, dan farmakologi.</p> 2019-04-14T04:11:41SE Asia Daylight Time ##submission.copyrightStatement## Determinan Kejadian Kanker Serviks di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Provinsi Aceh 2019-04-14T05:32:14SE Asia Daylight Time Faradilla Safitri Nuzulul Rahmi <p><strong><em>Abstract </em></strong></p> <p><em>Cervical cancer is one of the problem for women around the world. The incidence of cervical cancer in dr. Zainoel Abidin Regional General Hospital in 2015 was 54 cases, in 2016 there were 272 cases and in 2017 there were 80 cases. The purpose of this study is to analyze the causes of cervical cancer in General Hospital General Hospital of dr. Zainoel Abidin Aceh Province. This type of research is analytic survey using case-control design, the number of samples is taken based on the calculation of Lemeshow formula by calculating the minimum number of samples from the results of other people’s research, so that there are 21 cases, then the researchers make sample comparisons (1:2) 21 cases and 42 controls and sampling methods with accidental sampling. Collecting data on 7 June - 4 July 2018. The research instrument used a questionnaire. Data analysis in the form of univariate, bivariate and multivariate. The results bivariate analysis between age (p = 0.705, OR = 1.900), education (p = 0.655, OR = 1.467), occupation (p = 1.000, OR = 0.881), parity (p = 0.003, OR = 6.667), sexual behavior (p = 0.001, OR = 17.333), personal hygiene (p = 0.004, OR = 5.958), genetic (p = 0.005, OR = 10.000), oral contraceptives (p = 0.038, OR = 3.864). The results of dominant variables of multivariate analysis is sexual relations behavior with OR = 15.536. In conclusion there is a parity, sexual behavior, personal hygiene, genetics and oral contraception with cervical cancer incidence, while age, education and occupation are not related factors. Variable sexual relations behavior is the dominant factor in the incidence of cervical cancer.</em></p> <p>Abstrak</p> <p>Kanker serviks menjadi salah satu masalah kesehatan bagi perempuan di seluruh dunia. Angka kejadian kanker serviks di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Zainoel Abidin tahun 2015 sebanyak 54 kasus, tahun 2016 sebanyak 272 kasus dan tahun 2017 sebanyak 80 kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab kejadian kanker serviks di RSUD dr. Zainoel Abidin, Provinsi Aceh. Metode penelitian ini bersifat analitik dengan desain kasus-kontrol, jumlah sampel diambil berdasarkan perhitungan rumus Lemeshow dengan melakukan perhitungan jumlah sampel minimal dari hasil penelitian orang lain, sehingga didapatlah jumlah sampel kasus sebanyak 21 orang, selanjutnya peneliti membuat perbandingan sampel (1:2) yaitu 21 kasus dan 42 kontrol dan cara pengambilan sampel dengan accidental sampling. Pengumpulan data tanggal 7 Juni–4 Juli 2018. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data berupa univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian analisis bivariat menunjukkan bahwa umur (p=0,705, OR=1,900), pendidikan (p=0,655, OR=1,467), pekerjaan (p=1,000, OR=0,881), paritas (p=0,003, OR=6,667), perilaku hubungan seksual (p=0,001, OR=17,333), personal hygiene (p=0,004, OR=5,958), genetik (p=0,005, OR=10,000), kontrasepsi oral (p=0,038, OR=3,864). Hasil analisis multivariat variabel yang dominan adalah perilaku hubungan seksual dengan OR=15,536. Kesimpulan menunjukkan ada hubungan paritas, perilaku hubungan seksual, personal hygiene, genetik dan kontrasepsi oral dengan kejadian kanker serviks, sedangkan umur, pendidikan, dan pekerjaan bukan faktor yang berhubungan. Variabel perilaku hubungan seksual merupakan faktor dominan kejadian kanker serviks.</p> 2019-04-14T04:21:35SE Asia Daylight Time ##submission.copyrightStatement## Analisis Air Minum dan Perilaku Higienis dengan Kejadian Diare pada Lansia di Indonesia 2019-04-14T05:33:00SE Asia Daylight Time Phetisya PF Sumolang Made Agus Nurjana Junus Widjaja <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Diare he a is a condition of abnormal defecation that is more than three times a day with a runny concentration of stool with or without blood or mucus due to an inflammatory process in the stomach or intestine. Indonesia is one of the developing countries with a high incidence of diarrhea seen from the morbidity and mortality rate, and can attack all ages, including toddlers, children, adults and even the elderly. Health problems in the elderly are generally caused by a decrease in the functioning of the body’s organs, so that the body’s activity and metabolism automatically decrease which is followed by a decrease in energy and decreased digestive capacity which generally begins at the age of 50 years. Data analysis was conducted to determine the relationship between drinking water supply and hygienic behavior with the incidence of diarrhea in elderly (adults over 54 years) using logistic regression. The samples analyzed were 138,515 elderly from the 2013 Basic Health Research data. The results of the analysis showed that there was a correlation between hygienic behavior with the incidence of diarrhea in elderly in Indonesia (p value &lt; 0,05) and the most dominant variable was hand washing behavior after defecation. Improving clean and healthy behavior especially in elderly group needs to be improved as a prevention measure for the occurrence of diarrheal in the elderly in Indonesia.</em></p> <p>Abstrak</p> <p>Diare merupakan suatu kondisi buang air besar tidak normal yang lebih dari tiga kali sehari dengan konsentrasi tinja yang encer dengan atau tanpa disertai darah atau lendir akibat dari proses inflamasi pada lambung atau usus. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan angka kejadian diare masih tinggi dilihat dari angka morbiditas dan mortalitas, serta dapat menyerang semua usia baik balita, anak, dewasa bahkan lansia. Masalah kesehatan pada lansia secara umum disebabkan karena menurunnya fungsi organ tubuh, sehingga aktivitas dan metabolisme tubuh otomatis menurun yang diikuti dengan menurunya energi dan kapasitas pencernaan menurun yang umum dimulai usia 50 tahun. Analisis data telah dilakukan untuk mengetahui hubungan antara penyediaan air minum dan perilaku higienis dengan kejadian diare pada lanjut usia (dewasa dengan usia lebih dari 54 tahun) dengan regresi logistik. Sampel yang dianalisis sebanyak 138.515 orang dewasa dari data Riskesdas 2013. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan distribusi variabel dan analisis regresi logistik untuk mengetahui hubungan antara variabel yang diteliti. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara perilaku higienis dengan kejadian diare pada kelompok lanjut usia di Indonesia (p value &lt; 0,05) dan yang paling dominan adalah perilaku cuci tangan setelah buang air besar (BAB). Peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) khususnya pada kelompok usia lanjut perlu ditingkatkan sebagai tindakan pencegahan terjadinya diare pada lansia di Indonesia.</p> 2019-04-14T04:33:37SE Asia Daylight Time ##submission.copyrightStatement## Back Matter Vol 29 No 1 2019-04-14T05:13:22SE Asia Daylight Time safrizal safrizal 2019-04-14T05:08:01SE Asia Daylight Time ##submission.copyrightStatement##