Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan <p><strong>ISSN Media Cetak : <a href="">0853-9987</a></strong> <br> <strong>ISSN Media Elektronik : <a href=";1368762356&amp;1&amp;&amp;">2338-3445</a></strong></p> <p>Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Media of Health Research and Development) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia .<br>Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.</p> <p>Media of Health Research and Development currently has been registered on the sites: <a href="" target="_blank" rel="nofollow noopener">Indonesian Scientific Journal Database</a>; <a href=";mod=viewjournal&amp;journal=4883" target="_blank" rel="nofollow noopener">Indonesian Publication Index</a>; <a href=";id=0" rel="nofollow">Directory of Research Journals Indexing</a>; <a href="" rel="nofollow">getCITED;</a> <a href="{%22query%22%3A{%22filtered%22%3A{%22filter%22%3A{%22bool%22%3A{%22must%22%3A[{%22term%22%3A{%22_type%22%3A%22journal%22}}]}}%2C%22query%22%3A{%22query_string%22%3A{%22query%22%3A%22media%20penelitian%20dan%20pengembangan%20kesehatan%22%2C%22default_operator%22%3A%22AND%22}}}}%2C%22from%22%3A0%2C%22size%22%3A10}#.UrPuLeIpWkw" target="_blank" rel="nofollow noopener">Directory of Open Access Journals</a>; <a href=";hl=en" rel="nofollow">Google Scholar</a>; <a href="" target="_blank" rel="nofollow noopener">Open Academic Journals Index</a>; <a href="" rel="nofollow">International Society of Universal Research in Sciences</a>; <a href=";type=all&amp;ling=1&amp;name=&amp;thes=&amp;refid=dcresen&amp;newsearch=1" rel="nofollow">Bielefeld Academic Search Engine</a> (BASE); <a href=";subAction=pub&amp;publisherID=2692&amp;journalID=28981&amp;pageb=1&amp;userQueryID=3766&amp;sort=&amp;local_page=1&amp;sorType=&amp;sorCol=1" rel="nofollow">JournalTOCs</a>; and <a href="" target="_blank" rel="nofollow noopener">Citefactor</a>. Media of Health Research and Development is being reviewed by <a href="" target="_blank" rel="nofollow noopener">Universal Impact Factor</a>.</p> <p>During 2014 Media Health Research and Development has published 28 research and review articles.</p> <p>See Google Scholar Profile for Media Health Research and Development by <a href=";hl=en">clicking here</a>.</p> <ul> <li class="show">Total Citations : 2320</li> <li class="show">h-index : 22</li> <li class="show">i10-index : 71</li> </ul> Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan en-US Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 0853-9987 Determinan Stres Kerja pada Aparatur Sipil Negara Dinas Pendidikan Kota Cilegon Saat Work From Home di Era Pandemi COVID-19 Tahun 2020 <div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p><em>Work stress is a serious problem that results in a emotional mental disorder rate of 9.8% in Indonesia. State civil apparatus (ASN) is a group of workers who are at risk of experiencing work stress. Work stress is caused by employees who perform the work from home (WFH) system, so that employees feel pressured and have an excessive workload on adjusting changes in the learning system in schools due to COVID-19. This study aimed to find the determinant of work stress on the ASN at Department of Education of Cilegon City during WFH on March-May 2020. This study used a cross sectional study with 73 respondents. The statistical tests used in the study are the Chi-square test. The result shows that respondents who experienced very heavy stress and severe stress were 22 people (30.1%). In addition, at α 5%, age variable (p-value = 0.024 ; OR = 8), years of service (p-value = 0.032), job demand (p-value = 0000; OR = 11.45), social support (p-value = 0.012; OR = 8), interpersonal relationship (p-value = 0.008; OR = 4.81), and changes to the organization (p-value = 0.008; OR = 5.33) have a significant relationship with very heavy work stress and severe stress. Based on this research, it is suggested to the head of service to accept the obstacles and difficulties of tasks experienced by employees by opening a consulting service at regular meeting as a means of channeling anxiety experienced by employees and ensuring that employees understand the reasons for proposed internal mutation by holding a question and answer session during internal meeting.</em></p> <div class="page" title="Page 2"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p>&nbsp;<strong>Abstrak</strong></p> <div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p>Stres kerja menjadi masalah serius yang mengakibatkan angka gangguan mental emosional sebesar 9,8% di Indonesia. Aparatur Sipil Negara (ASN) merupakan kelompok pekerja yang berisiko mengalami stres kerja. Stres kerja disebabkan oleh pegawai yang melakukan sistem kerja <em>work from home</em> (WFH), sehingga pegawai merasa tertekan dan memiliki beban kerja berlebih terhadap penyesuaian perubahan sistem pembelajaran di sekolah akibat COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi stres kerja pada ASN Dinas Pendidikan Kota Cilegon saat WFH di era pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan desain studi <em>cross sectional</em> dengan jumlah responden sebanyak 73 pegawai. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Mei 2020. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian adalah uji <em>Chi-square</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang mengalami stres sangat berat dan stres berat sebanyak 22 orang (30,1%). Selain itu, pada derajat kepercayaan (α) 5%, variabel umur (<em>p-value</em>=0,024 ; OR=8), masa kerja (<em>p-value</em>=0,019 ; OR=7,18), tuntutan pekerjaan (<em>p-value</em>=0,000 ; OR=11,45), dukungan sosial (<em>p-value</em>=0,012 ; OR=8), hubungan interpersonal (<em>p-value</em>=0,008 ; OR=4,81), dan perubahan pada organisasi (<em>p-value</em>=0,008 ; OR=5,33) memiliki hubungan yang signifikan dengan stres kerja sangat berat dan stres berat. Berdasarkan penelitian ini, disarankan kepada kepala dinas dapat menerima kendala dan kesulitan tugas yang dialami pegawai dengan membuka layanan konsultasi pada saat pertemuan rutin sebagai sarana penyalur kegelisahan yang dialami pegawai dan memastikan bahwa pegawai memahami alasan mutasi internal yang diusulkan dengan mengadakan sesi tanya jawab ketika rapat internal.</p> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> Fakhriyah Azhar Dewi Utami Iriani ##submission.copyrightStatement## 2021-03-31 2021-03-31 31 1 10.22435/mpk.v31i1.3521 Dyslipidemia in Chronic Kidney Disease Patients at Dr. Soetomo Hospital Surabaya <div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p>Epidemiological studies report that patients with chronic kidney disease (CKD) have a higher risk of mortality from cardiovascular disease than the general population. Previous studies have shown that dyslipidemia is thought to play a role in the development of atherosclerosis in patients with CKD. Dyslipidemia is known to be common in CKD patient population, but shows a diverse patterns in various CKD patient populations. This study aimed to analyze the lipid profile and lipid ratio in CKD patients at Dr. Soetomo Hospital Surabaya for the period 2016-2017. This cross-sectional study was conducted through retrospective observation of the medical records of CKD patient at the Kidney-Hypertension Polyclinic of Dr. Soetomo Hospital Surabaya in the 2016-2017 period. A total of 68 research subjects were analyed in this study. Most of the study subjects were male (68%) and the median age was 54 years. Almost 70% of the study subjects had CKD stage 5. Increased levels of total cholesterol and triglyceride were found in 37% of the study subjects. Meanwhile, a decreae in HDL-cholesterol levels and an increase in LDL-cholesterol and non-HDL-cholesterol levels were found in 60% of the study subjects. The mean value of total cholesterol, LDL-cholesterol, and non-HDL-cholesterol levels in the female group was siginificantly higher based on statistical calculations (p0.05). Most of the study subjects were predicted to be at risks for developing cardiovascular disease based on the calculation of several lipid ratios. The incidence of dyslipidemia in population is known to be higher than in the general population. Decreased HDL-cholesterol, increased LDL-cholesterol, and non-HDL-cholesterol are the most common forms of dyslipidemia in population studies.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p><em>Studi epidemiologi melaporkan bahwa pasien penyakit ginjal kronis memiliki risiko mortalitas akibat penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa dislipidemia diduga turut berperan terhadap terjadinya atherosklerosis pada pasien penyakit ginjal kronis. Dislipidemia diketahui umum ditemukan pada populasi pasien penyakit ginjal kronis namun menunjukkan pola yang bervariasi pada berbagai populasi pasien penyakit ginjal kronis. Studi ini bertujuan untuk menganalisis profil lipid dan rasio lipid pada pasien penyakit ginjal kronis di RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 2016-2017. Studi cross-sectional ini dilakukan melalui pengamatan retrospektif terhadap catatan rekam medis pasien penyakit ginjal kronis di Poliklinik Ginjal-Hipertensi&nbsp;</em><em>RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada periode 2016-2017. Sebanyak 68 subjek penelitian dianalisis dalam penelitian ini. Sebagian besar subjek penelitian berjenis kelamin laki-laki (68%) dan nilai median usia pada subjek penelitian mencapai 54 tahun. Sebagian besar subjek penelitian memiliki penyakit ginjal kronis stadium 5 (70%). Peningkatan kadar kolesterol total dan trigliserida ditemukan pada sekitar 37% subjek penelitian. Sedangkan penurunan kadar HDL-kolesterol dan peningkatan kadar LDL-kolesterol serta non HDL-kolesterol ditemukan pada sekitar 60% subjek penelitian. Nilai rerata kadar kolesterol total, LDL-kolesterol, dan non HDL-kolesterol pada kelompok berjenis kelamin perempuan secara signifikan lebih tinggi berdasarkan perhitungan statistika (p0.05). Sebagian besar subjek penelitian diprediksi memiliki risiko untuk mengalami penyakit kardiovaskular berdasarkan perhitungan beberapa rasio lipid. Insiden dislipidemia pada studi populasi diketahui lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Penurunan HDL-kolesterol, peningkatan LDL-kolesterol, dan non HDL-kolesterol merupakan bentuk dislipidemia yang paling umum ditemukan pada studi populasi.</em></p> </div> </div> </div> </div> </div> </div> Siti Rahmawati Jusak Nugraha Edhi Rianto ##submission.copyrightStatement## 2021-03-31 2021-03-31 31 1 10.22435/mpk.v31i1.3917 Profil Physalis minima L. dari Berbagai Etnis di 9 (Sembilan) Provinsi Indonesia Secara HPLC dan Kemometrik <div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p>Many Indonesian people use plants for medicine and health care. In 2017, the Center for Research and Development of Medicinal Plants and Traditional Medicines (B2P2TOOT), the National Institute of Health Research and Development (Badan Litbangkes) conducted a Research on Medicinal Plants and Herbs (Ristoja) by collecting 30 types of medicinal plants. Physalis minima L. (ciplukan) is one of the Ristoja plants that has been studied at the Pharmaceutical Laboratory, Center of Health Research and Development of Biomedical and Basic Health Technology, Badan Litbangkes. This study aimed to determine the chromatogram profile of plants to obtain plant quality and clusters between plants from different geographic origins using chemometric applications. There were 66 ciplukan samples collected from 15 ethnic groups in 9 provinces in Indonesia. Analysis was performed using High Performance Liquid Chromatography (HPLC) with a Photo Diode Array (PDA) detector at a wavelength (λ) of 254 nm and 366 nm. From the optimization results, the HPLC eluent used was a mixture of acetonitrile and methanol with a gradient system. The results from HPLC were chemometrically processed with data interpretation using Principal Component Analysis (PCA). PCA results of HPLC chromatograms at λ 254 nm and 366 nm, showed 2 clusters, which indicated that Physalis minima L. Ristoja results had 2 phytochemical profiles. The peak detected at λ 366 nm was more complex than at λ 254 nm.</p> <div class="page" title="Page 2"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p><strong>Abstrak</strong></p> <div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p>Masyarakat Indonesia banyak memanfaatkan tanaman untuk pengobatan maupun perawatan kesehatan. Pada tahun 2017, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) telah melakukan Riset Tanaman Obat dan Jamu (Ristoja) dengan mengumpulkan 30 jenis tanaman obat. <em>Physalis minima</em> L. (ciplukan) merupakan salah satu tanaman hasil Ristoja yang telah diteliti di Laboratorium Farmasi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Litbangkes. Penelitian bertujuan mengetahui profil kromatogram tanaman untuk mendapatkan kualitas mutu tanaman dan klaster antara tanaman dari asal geografis yang berbeda menggunakan aplikasi kemometrik. Sampel ciplukan yang terkumpul berjumlah 66 buah dari 15 etnis pada 9 provinsi di Indonesia. Analisis dilakukan menggunakan <em>High Performance Liquid Chromatography</em> (HPLC) dengan detektor <em>Photo Diode Array</em> (PDA) pada panjang gelombang (λ) 254 nm dan 366 nm. Dari hasil optimasi, eluen HPLC yang digunakan adalah campuran asetonitril dan metanol dengan sistem gradien. Hasil dari HPLC diolah secara kemometrik dengan interpretasi data menggunakan <em>Principal Component Analysis</em> (PCA). Hasil PCA dengan HPLC pada λ 254 nm and 366 nm, masing-masing memiliki 2 klaster yang menunjukkan bahwa <em>Physalis minima</em> L. hasil Ristoja memiliki 2 profil fitokimia. Puncak yang terdeteksi pada λ 366 nm lebih kompleks dibanding λ 254 nm.</p> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> Sukmayati Alegantina Herni Asih Setyorini Intan Sari Oktoberia Winarsih Winarsih Nurul Aini ##submission.copyrightStatement## 2021-03-31 2021-03-31 31 1 10.22435/mpk.v31i1.3709 Hubungan Hipertensi dalam Kehamilan dengan Kelahiran Prematur: Metaanalisis <div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p>Hypertension is still a problem in many countries, not only in developed countries but also developing countries. Hypertension that occurs in pregnant women will carry risks not only for the mother but also for the fetus. It often causes death for mother. In addition to endangering the mother, hypertension is also harmful to the fetus in the womb, by the incidence of inadequate placental oxygen transfer, intrauterine growth restriction (IUGR), preterm birth, placental abruption, stillbirth, and neonatal death. Premature birth is a concern because it affects children's growth and development in the future. This study aimed to determine the probability of preterm birth caused by pregnancy with hypertension collected from various articles that have been published. The method used to collect and select articles was the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-analysis (PRISMA) method and the analysis was using STATA to get an overview of the forest plot. The result of this analysis was that 1,969 articles from PubMed and Google Scholar were obtained based on the keywords pregnancy, hypertension, pre-eclampsia, eclampsia, and premature. After screening and eligibility based on inclusion criteria, 11 articles could be further analyzed and the pooled OR was 3.70 (CI 2.80 - 4.60). The conclusion is that pregnancy with hypertension still provides ample opportunities for premature birth, so it is necessary to improve antenatal care (ANC) services and education for pregnant women and their families.</p> <div class="page" title="Page 2"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p><strong>Abstrak</strong></p> <div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p>Hipertensi masih menjadi permasalahan di berbagai negara, tidak hanya negara maju namun juga negara yang berkembang. Hipertensi yang terjadi pada ibu hamil akan membawa risiko tidak hanya bagi ibu tetapi juga untuk janinnya. Pada ibu tidak jarang terjadi kematian. Selain membahayakan ibu, hipertensi juga berbahaya pada janin yang ada dalam kandungan yaitu terjadinya transfer oksigen plasenta yang tidak adekuat, intrauterine growth restriction (IUGR), kelahiran prematur, solusio plasenta, lahir mati, dan kematian neonatal. Kelahiran prematur cukup menjadi perhatiaan karena berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan dikemudian hari. Penelitian ini bertujuan untuk melihat besarnya peluang kejadian kelahiran prematur yang disebabkan oleh kehamilan dengan hipertensi yang dikumpulkan dari berbagai artikel yang sudah terbit. Metode yang dilakukan untuk pengumpulan dan seleksi artikel adalah dengan menggunakan metode <em>Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-analyse</em> (PRISMA) dan analisis menggunakan STATA sehinga mendapat gambaran forest plot. Hasil dari analisis ini adalah didapatkan 1.969 artikel dari PubMed dan Google Scholar berdasarkan kata kunci kehamilan, hipertensi, pre eklamasi, eklamsi, dan prematur. Setelah dilakukan penyaringan dan kelayakan berdasarkan kriteria inklusi didapatkan 11 artikel yang bisa dianalisis lanjut dan didapatkan OR gabungan adalah 3,70 (CI. 2,80 – 4,60). Kesimpulan yang didapat bahwa kehamilan dengan hipertensi masih memberi cukup banyak peluang untuk terjadinya kelahiran prematur sehingga perlu ditingkatkan pelayanan dan pendidikan terkait antenatal care (ANC) kepada ibu hamil dan keluarganya.</p> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> Amalia Safitri Sri Poedji Hastoety Djaiman ##submission.copyrightStatement## 2021-03-31 2021-03-31 31 1 10.22435/mpk.v31i1.3881 Hubungan Operasi Sesar dengan Inisiasi Menyusu Dini di Indonesia: Analisis Data SDKI 2017 <div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p>The prevalence of exclusive breastfeeding and early initiation of breastfeeding in Indonesia, is still low 37.3% and 58.2%, respectively. However, cesarean delivery increased from 12.3% in 2012 to 17.0% in 2017. Women who gave birth by cesarean section were less likely to breastfeed earlier. This study aimed to determine the relationship between cesarean delivery and early initiation of breastfeeding among women in Indonesia. This study was a further analysis of the 2017 IDHS data with a sample of the 6,877 last-born children in the two years preceding the survey. The dependent variable was early initiation of breastfeeding, while the main independent variable was cesarean delivery. Other covariate variables included age, education, occupation, place of residence, parity, history of antenatal care, place of delivery and wealth index. Data analysis used logistic regression to determine the relationship between cesarean delivery and early initiation of breastfeeding, showing as the Adjusted Odds Ratio among 95% confidence interval. The results of the study showed that eight out of ten (82.75%) women who gave birth by cesarean section did not experience early initiation of breastfeeding, compared to those who delivered vaginal delivery (62.75%). Women who gave birth by cesarean section were 7.16 times more likely to not practice early initiation of breastfeeding (AOR 7.16; 95% CI: 3.66-14.01) compared to those who delivered vaginal delivery. To improve early initiation of breastfeeding, pregnant women need to be encouraged to do antenatal care (ANC) to increase their knowledge and confidence about breast milk. In addition, health workers and health care providers need to provide support to women who give birth by cesarean section to breastfeed as early as possible through providing adequate information about breastfeeding, encouraging rooming-in and preventing the promotion of formula milk.</p> <div class="page" title="Page 2"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p><strong>Abstrak</strong></p> <div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p>Prevalensi air susu ibu (ASI) eksklusif dan inisiasi menyusu dini (IMD) di Indonesia, masih rendah yaitu masing-masing 37,3% dan 58,2%. Di sisi lain, kelahiran melalui operasi sesar meningkat dari 12,3% pada 2012 menjadi 17,0% pada 2017. Wanita yang melahirkan dengan operasi sesar lebih kecil kemungkinannya untuk menyusui lebih awal. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persalinan sesar dengan IMD pada wanita di Indonesia. Studi ini merupakan analisis lanjut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 dengan sampel 6.877 anak terakhir yang lahir dalam kurun waktu dua tahun sebelum survei. Variabel dependen adalah IMD, sedangkan variabel independen utama adalah persalinan sesar. Variabel kovariat lainnya antara lain usia, pendidikan, pekerjaan, tempat tinggal, paritas, riwayat <em>antenatal care</em>, tempat persalinan, dan indeks kekayaan. Analisis data menggunakan regresi logistik untuk mengetahui hubungan antara persalinan sesar dengan IMD, yang dilihat dari nilai <em>Adjusted Odds Ratio</em> dengan interval kepercayaan 95%. Hasil studi menunjukkan bahwa delapan dari sepuluh (82,75%) wanita yang melahirkan dengan operasi sesar tidak melakukan IMD, dibandingkan dengan yang melahirkan persalinan pervaginam (62,75%). Wanita yang melahirkan melalui operasi sesar memiliki kemungkinan 7,16 kali lebih tinggi untuk tidak melakukan IMD (AOR 7,16; 95% CI: 3,66-14,01) dibandingkan dengan mereka yang melahirkan secara pervaginam. Untuk meningkatkan praktik IMD, ibu hamil perlu didorong untuk melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan dirinya mengenai ASI. Selain itu, petugas kesehatan dan penyedia layanan kesehatan perlu memberikan dukungan kepada wanita yang melahirkan melalui operasi sesar untuk menyusui sedini mungkin melalui pemberian informasi mengenai ASI secara memadai, mendorong adanya <em>rooming-in</em>, serta mencegah pemberian promosi susu formula.</p> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> Siti Masitoh Siti Nurokhmah Anissa Rizkianti Sugiharti Sugiharti ##submission.copyrightStatement## 2021-03-31 2021-03-31 31 1 10.22435/mpk.v31i1.3430 Perilaku Perilaku Pencegahan Penularan Tuberkulosis Paru pada Penderita TB di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar <div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p><em>Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis that attacks the lungs. The high incidence of Pulmonary TB in Indonesia indicates that action needs to be taken to reduce the transmission rate. The transmission prevention behavior is intended for families and people around who are often in direct contact with sufferers. The purpose of this study was to determine the factors associated with TB transmission prevention measures in Banda Aceh City and Aceh Besar district. This study used a cross-sectional study design involving pulmonary tuberculosis patients aged &gt;15 years. Respondents involved were 262 people who were in the working areas of primary health service center and hospitals in Banda Aceh City and Aceh Besar district. Data on gender, age, education, patient category, Drug Swallowing Supervisor (PMO), regularity of taking medication, seeking treatment, knowledge, attitudes, and behavior towards TB disease were obtained through interviews. Data were analyzed by univariate,&nbsp;</em><em>bivariate X<sup>2</sup> (chi square), and multivariate. The results found that knowledge, attitude, faster treatment seeking regular medication, and high level of education were the most dominant factors influencing TB transmission prevention behaviour. Older age also associated with TB transmission prevention behaviour. TB transmission prevention behavior in TB patients was 53% good. Patients and family members must always be reminded to implement TB prevention and transmission behaviors. Regular visits to the patient’s home can be made by officers to provide education and monitoring of treatment.</em></p> <div class="page" title="Page 2"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p><strong>Abstrak</strong></p> <div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p>Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh <em>Mycobacterium tuberculosis</em> yang menyerang paru-paru. Tingginya kasus TB Paru di Indonesia menunjukkan bahwa perlu dilakukan tindakan untuk menurunkan angka penularan. Perilaku pencegahan penularan ini ditujukan bagi keluarga dan orang di sekitar yang sering kontak langsung dengan penderita. Tujuan penelitian ini untukmengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan pencegahan penularan TB pada penderita TB di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini menggunakan rancangan studi <em>cross-sectional</em> dengan melibatkan penderita TB paru yang berumur &gt;15 tahun. Responden yang terlibat sebanyak 262 orang yang berada di wilayah kerja puskesmas dan rumah sakit di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Data jenis kelamin, umur, pendidikan, kategori pasien, pengawas menelan obat (PMO), keteraturan menelan obat, pencarian pengobatan, pengetahuan, sikap, dan perilaku terhadap penyakit TB didapatkan melalui wawancara. Data dianalisis secara univariat, bivariat X<sup>2</sup> (<em>chi square</em>), dan multivariat. Hasil penelitian didapatkan bahwa pengetahuan, sikap, pencarian pengobatan yang lebih cepat, teratur menelan obat anti tuberkulosis (OAT), dan pendidikan tinggi merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi perilaku pencegahan penularan TB. Umur yang lebih tua juga berhubungan dengan perilaku pencegahan penularan TB. Perilaku pencegahan penularan TB pada pasien TB sebesar 53% baik. Penderita dan anggota keluarga harus selalu diingatkan untuk menerapkan perilaku pencegahan dan penularan TB. Kunjungan berkala ke rumah pasien dapat dilakukan oleh petugas untuk pemberian edukasi dan pemantauan pengobatan.</p> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> Nur Ramadhan Zain Hadifah Yasir Yasir Ulil Amri Manik Nelly Marissa Abidah Nur Yulidar Yulidar ##submission.copyrightStatement## 2021-03-31 2021-03-31 31 1 10.22435/mpk.v31i1.3920 Konsumsi Makanan Cepat Saji, Aktivitas Fisik, dan Status Gizi Remaja di Kota Tangerang Selatan <div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p><em>Adolescents who are overweight or obese are at higher risk of chronic diseases such as cardiovascular disease and cancer at a later time. Consumption of fast food and inadequate physical activity are important risk factors for overweight and obesity. The purpose of this study was to examine the associations of fast food consumption and physical activity with the nutritional status of adolescents in SMK Negeri 2 Tangerang Selatan 2019. The study was a cross-sectional design, conducted in April 2009. Participants were 269 vocational highschool students, aged 15-18 years. Information on fast food consumption was collected by Food Frequency Questionnaire (FFQ). Logistic regression was used for analysis. The results of&nbsp;</em><em>multivariate analysis showed that consumption of instant noodles and lack of physical activity were significantly associated with overweight and obesity in adolescents (p-value &lt;0.05). The odds ratios (OR) for instant noodles consumption of ≥1 time/week and less physical activity were 2.310 (95% Confidence Interval [CI]: 1.292-4.132) and 1.937 (95% CI: 1.064-3.534), respectively. In conclusion, consumption of instant noodles ≥ 1 time/week and lack of physical activity were associated with an increased risk of overweight or obesity in the adolescent. This study recommended the importance of reducing fast-food consumption and increasing physical activity in order to prevent overweight or obesity in adolescents.</em></p> <div class="page" title="Page 2"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p><em>&nbsp;</em><em><strong>Abstrak</strong></em></p> <p>Berat badan berlebih dan obesitas pada remaja dapat meningkatkan risiko penyakit kronik seperti penyakit kardiovaskular dan kanker di kemudian hari. Konsumsi makanan cepat saji dan aktivitas fisik yang rendah merupakan faktor risiko yang dapat menyebabkan kelebihan berat badan dan obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi makanan cepat saji dan aktivitas fisik dengan status gizi remaja di SMK Negeri 2 Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian <em>cross-sectional</em> yang dilaksanakan di bulan April 2019. Partisipan terdiri dari 269 siswa SMK, berusia 15-18 tahun. Informasi mengenai konsumsi makanan cepat saji dikumpulkan dengan menggunakan <em>Food Frequency Questionnaire</em> (FFQ). Data dianalisis dengan menggunakan regresi logistik. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konsumsi mi instan dan kurang aktivitas fisik berhubungan secara signifikan dengan kelebihan berat badan dan obesitas pada remaja (<em>p-value</em> &lt;0,05). <em>Odds Ratio</em> (OR) untuk konsumsi mi instan ≥1 kali/minggu adalah 2,310 (95% <em>Confidence Interval</em> [CI]: 1,292-4,132) dan OR aktivitas fisik yang kurang adalah 1,937, 95% CI: 1,064-3,534). Dapat disimpulkan bahwa konsumsi mi instan ≥1 kali/minggu dan aktivitas fisik yang kurang berhubungan dengan peningkatan risiko kelebihan berat badan dan obesitas pada remaja. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya mengurangi konsumsi makanan cepat saji dan meningkatkan aktivitas fisik untuk mencegah kelebihan berat badan atau obesitas pada remaja.</p> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> Hoirun Nisa Imanda Zein Fatihah Feny Oktovianty Tieneke Rachmawati Rika Mardiah Azhari ##submission.copyrightStatement## 2021-03-31 2021-03-31 31 1 10.22435/mpk.v31i1.3628 Penyakit Kardiovaskular pada Pasien Rawat Inap Dewasa: Studi Kasus dari Data Klaim BPJS Rumah Sakit Pemerintah di Jakarta <div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p><em>Cardiovascular disease (PKV) is the most common non-communicable disease and is the leading cause of death globally. This study aimed to determine the description of cardiovascular disease in adult JKN patients who were treated at the hospital. This observational study with cross sectional design was carried out in a type A of government hospital in Jakarta. The sample&nbsp;</em><em>was selected purposively using BPJS claim data for the period of January-December 2017. All hospitalized patients with aged ≥18 years and suffering from PKV according to Indonesia Case Base Groups (INA-CBG) code were included in the analysis. The results found that number of BPJS patients were hospitalized in the PKV group was 2,005 patients with with a total of 2,561 visits. More men than women, with the largest age range 56-65 years. More than half of BPJS patients utilize class 3 care facilities with an average length of stay of around 9 days. Mostly at desease I and II. The number of patients who died was 16.06%. Most cases and comorbidities were acute myocardial infarction with type 2 diabetes mellitus. Meanwhile the main cause of death was cardiac arrest with no known cause. In terms of financing, the average hospital tariff is higher than the average of INA-CBG tarrif. In conclusion, the most cases of PKV in hospitalized JKN patients were acute myocardial infarction with severity at level I and II in type A government hospitals, which should have been handled by a lower types of hospital. Diabetes mellitus is a major comorbid, and unknown cardiac arrest is the leading cause of death. The average of hospital tarif in PKV cases is higher than the INA-CBG tariff.</em></p> <div class="page" title="Page 2"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <div class="page" title="Page 2"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penyakit kardiovaskular (PKV) merupakan penyakit tidak menular yang paling sering ditemukan dan menjadi penyebab utama kematian secara global. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyakit kardiovaskular pada pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) usia dewasa yang mendapatkan perawatan di rumah sakit (RS). Metode penelitian observasional dengan desain potong lintang di salah satu RS pemerintah tipe A di Jakarta. Sampel dipilih secara purposif menggunakan data klaim periode Januari-Desember 2017. Seluruh pasien yang dirawat inap, berusia 18 tahun ke atas, dan menderita PKV menurut kode <em>Indonesia Case Base Groups</em> (INA-CBG) diikutkan dalam analisis. Hasil penelitian menemukan jumlah pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang dirawat inap pada kelompok PKV sebanyak 2.005 pasien, dengan total kunjungan sebanyak 2.561. Laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan, dengan rentang usia terbanyak 56-65 tahun. Lebih dari separuh pasien BPJS memanfaatkan fasilitas perawatan kelas 3 dengan rata-rata lama rawat sekitar 9 hari. Terbanyak pada tingkat keparahan penyakit I dan II. Jumlah pasien meninggal sebesar 16,06%. Kasus dan komorbid terbanyak adalah infark miokard akut dan diabetes melitus tipe 2. Sedangkan penyebab kematian utama adalah <em>cardiac arrest</em> tanpa diketahui penyebabnya. Dalam hal pembiayaan, rata-rata tarif RS lebih tinggi dari rata-rata tarif INA-CBG. Kesimpulan, kasus terbanyak PKV pada pasien JKN yang dirawat inap adalah infark miokard akut dengan tingkat keparahan pada level I dan II di RS Pemerintah tipe A, yang seharusnya ditangani oleh tipe RS lebih rendah. Diabetes melitus adalah komorbid utama dan cardiac arrest tanpa diketahui penyebabnya sebagai penyebab kematian tertinggi. Rata-rata tarif RS pada kasus PKV lebih tinggi dari tarif INA-CBG.</p> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> </div> Cicih Opitasari Lutfah Rif'ati ##submission.copyrightStatement## 2021-03-31 2021-03-31 31 1 10.22435/mpk.v31i1.3291