PROFIL PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI TIGA PUSKESMAS WILAYAH KERJA KABUPATEN PIDIE PROPINSI ACEH

  • zain hadifah
  • Ulil Amri Manik
  • Andi Zulhaida
  • Veny Wilya
Keywords: profil tb Pidie, tuberkulosis paru, BTA positif

Abstract

Tuberkulosis adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh  Mycobacterium tuberculosis yang paling sering menginfeksi paru-paru. Kasus TB paru di Indonesia menduduki peringkat ketiga terbesar di dunia. Hal ini disebabkan banyaknya kasus BTA positif sebagai sumber infeksi. Prevalensi kejadian TB paru di Kab. Pidie termasuk tertinggi di propinsi Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penderita tuberkulosis paru di Kabupaten Pidie. Penelitian dilakukan di tiga Puskesmas PRM dengan kejadian TB paru tertinggi di Kab. Pidie, secara observasional dengan desain  potong  lintang  yang dilakukan pada bulan Oktober dan November 2013. Sampel penelitian merupakan penderita TB paru dengan BTA (+) yang datang berobat 1-3 bulan di puskesmas. Data diambil dengan melakukan wawancara dengan kuesioner, pengukuran kelembaban rumah dan pengamatan lingkungan rumah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita TB paru sebagian besar berjenis kelamin laki-laki, usia produktif, menikah dan bekerja dengan pendidikan tertinggi SLTA. Rata-rata penghasilan <1,5 juta rupiah, jumlah anggota keluarga sebagian >4 orang. Kelembaban dalam ruangan sudah baik, tetapi 55 % lingkungan  disekitar rumah  tampak kumuh. Puskesmas dan tenaga kesehatan dapat meningkatkan promosi tentang TB paru pada masyarakat baik melalui penyuluhan, leaflet, poster dan media lainnya terutama bagi yang beresiko terhadap penularan  TB agar masyarakat lebih menjaga kesehatan individu dan lingkungan rumah tinggal.

 

Tuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis and a threat to health. Prevalence of pulmonary TB in Pidie District is among the 5 regions with the highest in Aceh. This study aimed to know the profile of patients with pulmonary TB in Pidie District. The study was located the 3 public health center with the highest incident of pulmonary TB in Pidie District. The study used a cross sectional approach in October and November 2013. The sample is patient of BTA positif TB  who came treatment for 1-3 months to the public health center. The collection of data was conducted with interview using questionnaire, the measurement of humidity and observation housing. The results showed that patients pulmonary TB were men, productive age, marital status and worker with the highest education was graduated from high school. Family income per month below 1,5 millions rupiah. The number of family members is mostly over 4 people. Humidity in the room is good, but 55% of the neighborhood around the house looks shabby. Community health centers and health workers can improve the promotion of pulmonary TB in the community through counseling, leaflets, posters and other media especially for those at risk of TB transmission in order to better protect the individual's health and the home environment.

References

1. World Health Organization (WHO). Global Tuberculosis Report 2013. WHO Press. Genewa. 2013.
2. Direktorat Jendral Bina Upaya Kesehatan, Kementerian Kesehatan. Petunjuk Teknis Pemeriksaan Biakan, Identifikasi dan Uji Kepekaan Mycobacterium tuberculosis pada Media Padat. Jakarta : Kementerian Kesehatan. 2012.
3. Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan, Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis, Jakarta : Kementerian Kesehatan, 2011
4. Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI, Profil Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Tahun 2012, Jakarta. 2013
5. Dinas Kesehatan Provinsi Aceh. Profil Kesehatan Provinsi Aceh Tahun 2012. Banda Aceh. 2013
6. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan. RI. Riset Kesehatan Dasar (RISKSDAS) 2013. Jakarta.2013
7. Dinas Kesehatan Provinsi Aceh. Laporan Triwulan Penemuan Pasien TB Tahun 2012. Banda Aceh. 2013.
8. Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie. Laporan Evaluasi Program TB Paru Puskesmas di Kabupaten Pidie Tahun 2012. Pidie. 2013
9. Achmadi Umar Fahmi. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah, Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2005
10. Pertiwi Rikha Nurul, M.Arie Wuryanto dan Dwi Sutiningsih.Hubungan Antara Karakteristik Individu, Praktik Hygiene dan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Tuberkulosis di Kecamatan Semarang Utara Tahun 2011. Semarang : Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro. Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012, Halaman 435 – 445.
11. World Health Organization (WHO), Global Tuberculosis Report 2012, WHO Press. Genewa. 2012.
12. World Health Organization. A Brief History of Tuberculosis Control in Indonesia. Geneva, 2009.
13. Misnadiarly dan Sunarno. Tuberkulosis Paru dan Analisi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingginya Angka Kejadian di Indonesia Tahun 2007. Jakarta : Buletin Penelitian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Edisi Suplement, Tahun 2009, Halaman 56-63.
14. Chin James, I Nyoman Kandun. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Jakarta : Infomedika. 2006.
15. Girsang Merryani, Kristina Tobing dan Raflizar. Faktor Penyebab Kejadian Tuberkulosis serta Hubungannnya dengan Lingkungan Tempat Tinggal di Propinsi Jawa Tengah (Analisi Lanjut Riskesdas 2007). Jakarta : Buletin Penelitian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Volume 39 No. 1, Tahun 2011, Halaman 34-41.
16. Crofton, J., Horne, N., dan Miller, F., Tuberkolusis Klinis. Alih bahasa: Muherman Harun, dkk. Edisi 2, Jakarta: Widya Medika, 2002.
17. Fitriani Eka. Faktor Resiko yang Berhubungan dengan Kejadian Tuberkulosis Paru. Semarang : Unnes Jurnal of Public Health, Volume 1 No. 2, Tahun 2012.
18. World Health Organization. Guideline: Nutritional care and support for patients with Tuberculosis. Geneva. 2013
19. Nelly Marissa. Laporan Akhir Penelitian Risbinkes: Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penularan Kontak Serumah TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar Tahun 2012. Unit Pelaksana Fungsional, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kesehatan Kementerian Kesehatan. Banda Aceh. 2012.
20. Soekidjo Notoatmodjo. Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rinekecipta. 2007.
21. World Health Organization (WHO), Global Tuberculosis Report 2014, WHO Press. Genewa. 2014.
22. Ajis Emita, Nenny Sri Mulyani dan Dibyo Pramono. Hubungan Antara Faktor-Faktor Eksternal dengan Kejadian Penyakit Tuberkulosis pada Balita. Yogyakarta : Berita Kedokteran Masyarakat, Fakultas Kedokteran UGM. Vol. 25 No. 3 September 2009.
23. Musadad, Anwar. Hubungan Lingkungan Rumah dengan Penularan TB Paru Kontak Serumah. Jakarta : Jurnal Ekologi Kesehatan. Vol. 3 No. 3, Desember 2006 :486-496.
24. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 829 Menkes SK/VII/1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan.
25. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman.
Published
2017-07-28
How to Cite
1.
hadifah zain, Manik U, Zulhaida A, Wilya V. PROFIL PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI TIGA PUSKESMAS WILAYAH KERJA KABUPATEN PIDIE PROPINSI ACEH. sel [Internet]. 28Jul.2017 [cited 8Jul.2020];4(1):31-4. Available from: https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/sel/article/view/1446

Most read articles by the same author(s)