Kejadian ulkus berulang pada pasien diabetes mellitus

  • Nelly Marissa
  • Nur Ramadhan
Keywords: diabetes mellitus, ulkus, kriteria UT

Abstract

Ulkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi diabetes mellitus (DM) yang paling sering terjadi. Lamanya seseorang menderita ulkus akan menyebabkan besarnya kejadian ulkus berulang. Tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui kejadian ulkus berulang dan penilaian derajat keparahan ulkus pada penderita DM. Penelitian menggunakan metode potong lintang, dengan melibatkan 57 orang (40 orang dari RSUDZA dan 17 orang dari RSU Meuraxa) responden. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan data kejadian ulkus berulang, berapa sering terjadinya ulkus, lokasi, waktu sembuh, mengikuti senam diabetes dan riwayat merokok. Selanjutnya dilakukan pengukuran berat dan tinggi badan untuk mendapatkan nilai indeks massa tubuh (IMT)dan penilaian derajat ulkus berdasarkan kriteria University of Texas (UT). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kejadian ulkus berulang sebesar 28 orang (49,1)%, kejadian ulkus berulang pada sebagian besar responden mencapai 2 kali, paling sering di ekstermitas bawah. Waktu yang diperlukan untuk sembuh terbanyak mulai berkisar dari harian sampai satu tahun. Kebanyakan dari penderita ulkus berulang tersebut tidak mengikuti senam diabetes, bukan perokok aktif, dan memiliki IMT lebih. Berdasarkan kriteria UT kejadian ulkus yang paling sering adalah luka yang sudah mencapai tulang atau sendi dengan kondisi yang iskemik dan infeksi

References

1. World Health Organization Department. Global Report on Diabetes. Geneva, Switzerland; 2016.
2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riskesdas Biomedis Riset Kesehatan Dasar 2013.; 2013.
3. Ridwan E, Sihombing M, Sapardin A. Riset Kesehatan Dasar Provinsi Aceh. Vol 2.; 2013.
4. Soelistijo S, Novida H, Rudijanto A, et al. Konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di indonesia 2015. 2015:1-93.
5. Hastuti RT. Faktor-Faktor Resiko Ulkus Pada Penderita Diabetes Melitus( Studi Kasus di RSUD Dr. Moewardi Surakarta ). Univ Diponegoro. 2008.
6. Fitria E, Nur A, Marissa N, Ramadhan N. Karakteristik Ulkus Diabetikum pada Penderita Diabetes Mellitus di RSUD dr . Zainal Abidin dan RSUD Meuraxa Banda Aceh. 2017:153-160.
7. Kateel R, Augustine AJ, Prabhu S, Ullal S, Pai M, Adhikari P. Clinical and microbiological profile of diabetic foot ulcer patients in a tertiary care hospital. Diabetes Metab Syndr Clin Res Rev. 2017:8-11. doi:10.1016/j.dsx.2017.08.008.
8. Peters EJG, Lavery LA. Effectiveness of the diabetic foot risk classification system of the international working group on the diabetic foot. Diabetes Care. 2001;24(8):1442-1447. doi:10.2337/diacare.24.8.1442.
9. Purwanti LE, Maghfirah S. Faktor Risiko Komplikasi Kronis (Kaki Diabetik) Dalam Diabetes Mellitus Tipe 2. Indones J Heal Sci. 2016;7(1):26-39.
10. Klalifa WA. Risk factors for diabetic foot ulcer recurrence: a prospective 2-years follow-up study in Egypt. Foot. 2017. doi:doi.org/10.1016/j.foot.2017.12.004.
11. Shahi SK, Kumar A, Kumar S, Singh MBBS SK, Gupta MBBS SK, Singh T. Prevalence of Diabetic Foot Ulcer and Associated Risk Factors in Diabetic Patients From North India. J Diabet Foot Complicat. 2012;4(4):83-91.
12. Ă–rneholm H, Apelqvist J, Larsson J, Eneroth M. Recurrent and other new foot ulcers after healed plantar forefoot diabetic ulcer. Wound Repair Regen. 2017;25(2):309-315. doi:10.1111/wrr.12522.
13. Santoso M. Senam Diabetes Indonesia Seri 4 Persatuan Diabetes Indonesia. Jakarta: Yayasan Diabetes Indonesia; 2008.
14. Endriyanto E, Hasneli Y, Dewi YI. Efektivitas Senam Kaki Diabetes Melitus dengan Koran terhadap Tingkat Sensitivitas Kaki pada Pasien DM Tipe 2. Univ Riau. 2012:1-11.
15. Criqui MH. Peripheral arterial disease - epidemiological aspects. Vasc Med. 2001;6(1_suppl):3-7. doi:10.1177/1358836X0100600i102.
16. Cole CW, Hill GB, Farzad E, et al. Cigarette smoking and peripheral arterial occlusive disease. Surgery. 1993;114(4):753-6-7. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8211690.
17. American Diabetes Association. Peripheral Arterial Disease in People With Diabetes. Diabetes Care. 2003;26(12):3333-3341. doi:10.2337/diacare.26.12.3333.
18. Chaturvedi N, Abbott CA, Whalley A, Widdows P, Leggetter SY, Boulton AJM. Risk of diabetes-related amputation in South Asians vs. Europeans in the UK. Diabet Med. 2002;19(2):99-104. doi:10.1046/j.1464-5491.2002.00583.x.
19. Jbour AS, Jarrah NS, Radaideh AM, et al. Prevalence and predictors of diabetic foot syndrome in type 2 diabetes mellitus in Jordan. Saudi Med J. 2003;24(7):761-764. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12883610.
20. Armstrong DG, Lavery LA, Harkless LB. Treatment-based classification system for assessment and care of diabetic feet. J Am Podiatr Med Assoc. 1996;86(7):311-316. doi:10.7547/87507315-86-7-311.
21. Armstrong DG, Lavery LA, Harkless LB. Validation of a Diabetic Wound Classification System: The contribution of depth, infection, and ischemia to risk of amputation. Diabetes Care. 1998;21(5):855 LP-859. http://care.diabetesjournals.org/content/21/5/855.abstract.
Published
2017-11-25
How to Cite
1.
Marissa N, Ramadhan N. Kejadian ulkus berulang pada pasien diabetes mellitus. sel [Internet]. 25Nov.2017 [cited 2Jun.2020];4(2):91-9. Available from: https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/sel/article/view/1471