Distribusi Dan Aktivitas Menggigit Nyamuk Genus Mansonia Yang Berpotensi Sebagai Vektor Filariasis di Wilayah Endemis Filariasis Desa Ligan dan Lhok Bout Aceh Jaya

  • Yulidar Yulidar
  • Yasir M.Diah
  • Veny Wilya
  • Andi Zulhaida
Keywords: Mansonia annulata, Vektor filariasis Ligan dan LhokBout

Abstract

Filariasis masih menjadi masalah pada masyarakat di desa Ligan dan desa Lhok Bout Kabupaten Aceh Jaya. Mansonia spp merupakan salah satu vektor filariasis di Indonesia. Penelitian ini bersifat cross sectional yang dilaksanakan pada bulan Pebruari-Desember 2017 di desa Ligandan Lhok Bout. Penangkapan nyamuk menggunakan metode umpan orang dalam dan luar rumah. Umpan orang duduk dalam kelambu. Hasil penelitian  didapatkan total jumlah nyamuk Mansonia spp tertangkap adalah 58 nyamuk terbagi atas 5 spesies yaitu 8 nyamuk Ma. bonnae, 5 Ma. uniformis,  38 Ma. annulata,  6 Ma. annulifera dan 1 Ma. indiana. Kepadatan masing-masing nyamuk hinggap dibadan orang perjam adalah Ma. bonnae 0,31, Ma. uniformis 0,25,Ma. annulata 1,94. Ma. annulifera 0,31 dan Ma. indiana 0,06. Sedangkan kepadatan nyamukhinggap dibadan orang permalam adalah Ma. bonnae 1,33, Ma. uniformis 0,83,Ma. annulata 6,33, Ma. annulifera 1,00 dan Ma. indiana 0,17. Kelimpahan nisbi masing-masing nyamuk tertangkap yaitu Ma. bonnae 1,60%, Ma. uniformis 1,00%,Ma. annulata 6,20%, Ma. annulifera 1,00% dan Ma. indiana 0,20%. Nyamuk Mansonia spp yang tertangkap bersifat endofagik. Berdasarkan kepadatan nyamuk tertinggi dan angka dominansi spesies mencapai 3,33% maka vektor filariasis potensial di desa Ligan dan Lhok Bout adalah Mansonia annulata.

References

1. Dinkes Provinsi Aceh. Profil Kesehatan Prov. Aceh 2013. 2013.
2. Arimurti ARR. Keanekaragaman Genetik Nyamuk Vektor Filariasis Culex quinquefasciatus Say, 1823 (Diptera: Culicidae) di Kota dan Kabupaten Pekalongan Dengan Metode PCR-RAPD. J Muhammadiyah Med Lab Technol. 2018;1(2):42-61.
3. Purwantyastuti. Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) Filariasis. Bul Jendela Epidemiol. 2010;1(1):15-19.
4. Hoedojo. Vector of malaria and filariasis in Indonesia. Bul Penelit Kesehat. 1989;17(2):180-190.
5. WHO. LYMPHATIC FILARIASIS.; 2013.
6. Ditjen P2 PL KKR 2014. Subdit Filariasis Dan Kecacingan. Data Endemisitas Filariasis Di Indonesia Sampai Dengan Bulan Juli 2014. Jakarta; 2014.
7. Ditjen PP & PL DR. Pedoman Program Eliminasi Filariasis Di Indonesia”. Jakarta; 2009.
8. Boo LL, Liliana K, Sudomo M, Joesoef A. Status of Brugian Filariasis Research in Indonesia and Future Studies. Bul Penelit Kesehat. 1985;13(2):31-55.
9. KEMENKES B. Peta Hasil Pemeriksaan Patogen Malaria, Dengue, Japanese Enchepalitis, Dan Filariasis Pada Nyamuk. “Abstrak Riset Khusus Vektora.” Salatiga; 2016.


1. Dinas Kesehatan Provinsi Aceh. “Profil Kesehatan”. 2013. Provinsi Aceh.
2. Arimurti ARR. Keanekaragaman genetik nyamuk vektor filariasis Culex quinquefasciatus Say, 1823 (Diptera: Culicidae) di Kota dan Kabupaten Pekalongan dengan metode PCR-RAPD. The Journal Of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist. 2018. Vol. 1 (2). p-ISSN : 2597-3681, e-ISSN : 2614-2805.
3. Departemen Kesehatan RI. Epidemiologi filariasis. Jakarta: Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan; 2005.
4. Hoedojo. Vector of malaria and filariasis in Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan. Vol 17 (2), 1989. 181-190.
5. WHO. Report revieuw : Lymphatic filariasis. 2018.
6. Subdit Filariasis dan Kecacingan. Data Endemisitas Filariasis di Indonesia Sampai Dengan Bulan Juli 2014. Ditjen P2 PL, Kementerian Kesehatan RI. 2014.
7. Ditjen PP & PL. “Pedoman Program Eliminasi Filariasis di Indonesia”. Ditjen PP & PL, Depkes RI. Jakarta, 2009.
8. Lim Boo Liat, Kurniawan, L. M. Sudomo. Joesoef, A. “Status of Brugian Filariasis Research in Indonesia and Future Studies”. Buletin Penelitian Kesehatan. 13 (2), 31—55. 1985.
9. [B2P2VRP KEMENKES]. Peta hasil pemeriksaan patogen Malaria, Dengue, Japanese Enchepalitis, dan Filariasis pada nyamuk. “Abstrak Riset Khusus Vektora”. 2016. Salatiga.
10. O‟Connor CT dan Soepanto A. Kunci bergambar nyamuk Anopheles dewasa di dan bergambar jentik Anopheles di Indonesia. Jakarta: Ditjen PPM dan PLP. Depkes RI; 2013.
11. Departemen Kesehatan RI. Epidemiologi filariasis. Jakarta: Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan; 1999.
12. Phumee A, Preativatanyou K, Kraivichain K, Thavara U, Tawatsin A, et al. Morphology and protein profiles of salivary glands of filarial vector mosquito Mansonia uniformis. Possible Relation to Blood Feeding Process. Asian Biomedicine. 2011;5(3):353-60.
Parasites lymphatic filariasis. Epidemiology and risk factors. [Diakses tanggal 19 Juli 2018]. Diunduh dari:http://www.cdc.gov/parasites/lymphaticfilaria sis/epi.html.
13. Santoso, Yahya, Nungki HS, R. Irpan Pahlepi, Katarina SR. Studi bioekologi nyamuk Mansonia spp vektor filariasis di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Jurnal Vektora. 2016. 8 (2)71-80.
14. Santoso, Yahya, Salim, M. Penentuan Jenis Nyamuk Mansonia sebagai Tersangka Vektor Filariasis Brugia Malayi dan Hewan Zoonosis di Kabupaten Muaro Jambi. Media Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan. 2014. 24(4), 181–190.
15. Yahya, Ambarita LP, Santoso. Aktivitas menggigit Mansonia uniformis (Diptera: Culicidae) di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Jurnal Buski. 2015. 5(3) :140–148.
16. Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, 2012
17. Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, 2013
18. Novia Wulandari,Hubungan praktek pencegahanPenularan dengan kejadian filariasis di Kelurahan jenggot kota pekalonganTahun 2015, jurusan ilmu kesehatan masyarakatfakultas ilmu keolahragaanuniversitas negeri semarang, 2015
Published
2018-11-25
How to Cite
1.
Yulidar Y, M.Diah Y, Wilya V, Zulhaida A. Distribusi Dan Aktivitas Menggigit Nyamuk Genus Mansonia Yang Berpotensi Sebagai Vektor Filariasis di Wilayah Endemis Filariasis Desa Ligan dan Lhok Bout Aceh Jaya. sel [Internet]. 25Nov.2018 [cited 27May2019];5(2):59-7. Available from: https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/sel/article/view/1481