PENGETAHUAN KADER DAN TOKOH MASYARAKAT TERHADAP FILARIASIS DI KABUPATEN ACEH JAYA

  • Yulidar Yulidar
  • Asmaul Husna
  • Ulil Amri Manik
  • Veny Wilya
Keywords: kader, tokoh masyarakat, filariasis Aceh Jaya

Abstract

Filariasis termasuk penyakit parasit tular vektor. Kabupaten Aceh Jaya merupakan satu dari beberapa kabupaten di Provinsi Aceh sebagai wilayah endemis filariasis. Pelaksanaan program pengendalian filariasis pemberian obat massal pencegahan sudah dilakukan dari tahun 2011. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran pengetahuan kader dan tokoh masyarakat terhadap filariasis di Kabupaten Aceh Jaya. Penelitian ini bersifat cross sectional  yang pengumpulan data dilakukan pada Bulan Juli-Oktober 2017. Data dianalasis secara tematik kualitatif dan diinterpretasikan dalam bentuk narasi. Berdasarkan hasil analisis dari 5 pertanyaan yang diajukan tidak semua informan mampu menjelaskan dengan tepat. Dari 6 informan yang terlibat, semua informan tidak mengetahui istilah filariasis namun mengerti penyakitnya yang disebut barah atau entoet. Empat  informan berpendapat bahwa filariasis adalah penyakit akibat di gigit nyamuk  namun bukan penyakit menular, sedangkan 2 informan lainnya menyatakan filariasis adalah penyakit menular dan dapat ditularkan secara keturunan. Untuk infromasi bahwa filariasis tidak dapat di sembuhkan, 5 informan menyatakan tidak tahu. Namun, untuk informasi apakah filariasis berbahaya, ke 6 informan menyatakan berbahaya karena tidak bisa beraktivitas. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat dikatakan bahwa pengetahuan kader dan tokoh masyarakat kurang baik tentang filariasis. Oleh karena itu, kader dan tokoh masyarakat diharapkan dapat diberikan pelatihan atau penyuluhan tentang filariasis agar kader dan tokoh masyarakat dapat mendukung keberhasilan program filariasis.

 

Filariasis is a vector-borne parasitic disease. Aceh Jaya District is one of several districts in Aceh Province as a filariasis endemic area. The implementation of the filariasis control program for the provision of preventive mass drugs has been carried out since 2011. The purpose of this study was to obtain an overview of the knowledge of cadres and community leaders about filariasis in Aceh Jaya Regency. This study is a cross sectional study with data collection conducted in July-October 2017. Data analyzed thematic qualitatively and interpreted in a narrative form. Based on the results of the analysis of the 5 questions asked, not all informants were able to comment properly. Of the 6 informants involved, all informants did not know about filariasis but did know about a large and swollen foot disease called barrah or entoet. Four informants argued that filariasis is a disease caused by mosquito bites but not a contagious disease, while 2 other informants stated that filariasis is a contagious disease and can be transmitted by generations. For information that filariasis cannot be cured, 5 informants stated that they did not know. However, for information on whether filariasis is dangerous, the 6 informants stated that it is dangerous because they cannot do activities. Based on the results of the analysis, it can be said that the knowledge of cadres and community leaders is not good about filariasis. Therefore, cadres and community leaders are expected to be given training or counseling on filariasis so that cadres and community leaders can support the success of the filariasis program.

References

DAFTAR PUSTAKA

1. Kementrian Kesehatan R.I. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2014 Tentang Penanggulangan Filariasis. 2015.
2. Hanis, Ferdiyus, Nasri K, Maneh C, Fatah A, Zulfansyah W, dkk. Profil Kesehatan Aceh 2019. 2019
3. Ipa M, Endang Puji Astuti, Lukman Hakim, Hubullah Fuadzy. Analisis Cakupan Obat Massal Pencegahan Filariasis di Kabupaten Bandung dengan Pendekatan Model Sistem Dinamik. BALABA Vol.12 No.1, Juni 2016: 31-38.
4. Afrida NA. Keefektifan Model Pendampingan Dalam Meningkatkan Cakupan Obat Pada Pengobatan Massal Filariasis (Studi Kasus Di Kelurahan Kertoharjo Kecamatan Pekalongan Selatan Kota Pekalongan Tahun 2011). Skripsi. Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan, UNNES.
5. Sitorus H, Lasbudi P. A, Maya Arisanti, Helper Sahat Manalu. Pengetahuan Tokoh Masyarakat dan Kader Kesehatan Tentang Program Eliminasi Filariasis Limfatik di Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi. ASPIRATOR, 8(2), 2016, pp. 93-100.
6. Mara Ipa, Endang Puji Astuti, Yuneu Yuliasih, Joni Hendri, Aryo Ginanjar. Kinerja Kader Kesehatan dalam Pengobatan Massal Filariasis di Kecamatan Cibeureum dan Cibingbin, Kabupaten Kuningan. Media Litbangkes, Vol. 28 No. 1, Maret 2018, 1–8.
7. Hayati R, Fahrurazi. Determinan Kinerja Kader Filariasis Di Kalimantan Selatan. Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia. Vol. 5 No. 3, Desember 2018. Hal : 76-80
8. Hendri J, Mara Ipa, Aryo Ginanjar, Yuneu Yuliasih, Endang Puji Astuti. Intervensi Kader Dalam Mendukung Program Pemberian Obat Massal Pencegahan (Pomp) Filariasis Di Kecamatan Cibeureum Dan Cibingbin, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 17 No 1, Juni 2018 : 31 – 40
Published
2020-11-30
How to Cite
1.
Yulidar Y, Husna A, Manik U, Wilya V. PENGETAHUAN KADER DAN TOKOH MASYARAKAT TERHADAP FILARIASIS DI KABUPATEN ACEH JAYA. sel [Internet]. 30Nov.2020 [cited 22Sep.2021];7(2):70-9. Available from: https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/sel/article/view/4153

Most read articles by the same author(s)