POTENSI DAN PEMANFAATAN MIKROORGANISME DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT TULAR NYAMUK

  • Vivin Mahdalena Balai Litbangkes Baturaja
  • Tanwirotun Ni'mah Balai Litbangkes Baturaja
Keywords: Potensi, pengendalian, mikroorganisme, penyakit tular nyamuk

Abstract

Beberapa nyamuk adalah vektor berbagai penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD) dan malaria. Salah satu cara menurunkan angka penyakit tular nyamuk adalah dengan memutus rantai penularan dengan mencegah gigitan nyamuk. Pencegahan gigitan nyamuk sebagian besar memakai cara kimiawi baik menggunakan obat nyamuk bakar, repelen, maupun insektisida lainnya. Dampak negatif penggunaan insektisida kimia mendorong pengembangan dan penggunaan metode pengendalian nyamuk sebagai alternatif seperti pengendalian biologi. Pengendalian biologi dapat menggunakan mikroorganisme atau organisme yang berukuran kecil. Metode yang digunakan dalam penulisan adalah dengan menggunakan penelusuran literatur melalui buku, jurnal penelitian dan web page dengan rentang tahun 2010 sampai dengan bulan Agustus tahun 2019. Mikroorganisme golongan bakteri dan fungi dapat dijadikan sebagai agen pengendali biologi untuk pengendalian nyamuk terutama untuk larvasida. Mikroorganisme ini terdiri dari  Bacillus thuringiensis, Bacillus sphaericus, Bacillus subtilis, Wolbachia pipientis, Bacillus mycoides, Klebsiella ozaenae, Pseudomonas pseudomallei, Beauveria  bassiana dan Metarhizium anisopliae. Pengendalian nyamuk menggunakan mikroorganisme telah dilakukan pada genus Aedes, Culex, Anopheles dan Mansonia.

References

Kemenkes RI. Kemenkes Optimalkan PSN Cegah DBD. [internet] 2017 [Diunduh tanggal 25 Februari 2018]. Tersedia di: www.depkes.go.id.

Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI. Dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Kita Wujudkan Indonesia Bebas Malaria. [internet] 2017 [Diunduh tanggal 25 Februari 2018]. Tersedia di: http://www.malaria.id.

Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Prasetyowati H, Astuti EP, dan Ruliansyah A. Penggunaan Insektisida Rumah Tangga dalam Pengendalian Populasi Aedes aegypti di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jakarta Timur. Aspirator. 2016. 8(1): 29-36.

Sunaryo, Astuti P, dan Widiastuti D. Gambaran Pemakaian Insektisida Rumah Tangga di Daerah Endemis DBD Kabupaten Grobogan Tahun 2013. Balaba. 2015. 11 (01): 9-14.

Kusumastuti NH. Penggunaan Insektisida Rumah Tangga Antinyamuk di Desa Pangandaran, Kabupaten Pangandaran. Widyariset. 2014. 17(3): 417-424.

Adnyana NWD, Lobo V, Mapada MA, dan Triana E. Predasi Ikan Nila (Oreocromis niloticus) Terhadap Larva Anopheles sp di Insektarium Loka Litbang P2B2 Waikabubak Tahun 2014. Jurnal Penyakit Bersumber Binatang. 2015. 3(1): 10-17.

Ekawasti F dan Martindah E. Pengendalian Vektor dan Penyakit Zoonotik Virus Arbo di Indonesia. Wartazoa. 2016. 26(4): 151-162.

Ragavendran C, Dubey NK, and Natarajan D. Beauveria bassiana (Clavicipitaceae) : a potent fungal agent for controlling mosquito vectors of Anopheles stephensi, Culex quinquefasciatus and Aedes aegypti (Diptera: Culicidae). [internet] 2017 [Diunduh tanggal 27 Februari 2017] Tersedia di: www.rsc.org/advances.

Usta C. Microorganisms in Biological Pest Control - A Review (Bacterial Toxin Application and Effect of Environmental Factors). Chapter from the book Current Progress in Biological Research. [internet] 2013 [Diunduh tanggal 26 Februari 2018]. Tersedia di : https://www.intechopen.com/books/current-progress-in-biological-research/.

Widiastuti D dan Marbawati D. Efek Larvasida Bakteri Kitinolitik dari Limbah Kulit Udang terhadap Larva Aedes aegypti. Aspirator. 2016. 8(1): 47-54

Gama ZP, Yanuwiadi P, dan Kurniati TH. Strategi Pemberantasan Nyamuk Aman Lingkungan: Potensi Bacillus thuringiensis Isolat Madura Sebagai Musuh Alami Nyamuk Aedes aegypti. Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari. 2010. 1(1): 1-10.

Anggraeni YM, Christina B, dan Wianto R. Uji Daya Bunuh Ekstrak Kristal Endotoksin Bacillus thuringiensis israelensis (H-14) Terhadap Jentik Aedes aegypti, Anopheles aconitus dan Culex quinquefasciatus. Jurnal Sain Veteriner. 2013. 31(1): 25-42.

Perwitasari D, Ariati J, Manalu HSP, dan Munif A. Efikasi Bacillus sphaericus Strain 2362 Terhadap Larva Anopheles aconitus di Laboratorium. Buletin Penelitian Kesehatan. 2016. 44(1): 25-32.

Wibowo CI. Efektivitas Bacillus thuringiensis dalam Pengendalian Larva Nyamuk Anopheles sp. Biosfera. 2017. 34(1): 39-46.

Revathi K, Chandrasekaran R, Thanigaivel A, Kirubakaran SA, Narayanan SS, and Nathan SS. Effects of Bacillus subtilis Metabolites on Larval Aedes aegypti L. Pesticide Biochemistry and Physiology. 2013. 107: 369-376.

Balakrishnan S, Indira K, and Srinivasan M. Mosquitocidal Properties of Bacillus Species Isolated From Mangroves of Vellar Estuary, Southeast Coast of India. Journal of Parasitic Diseases. 2015. 39(3): 385–392.

Lusiyana. Wolbachia Sebagai Alternatif Pengendalian Vektor Nyamuk Aedes sp. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia. 2014. 6(3): 1-3.

Irfandi A. Kajian Pemanfaatan Wolbachia Terhadap Pengendalian DBD (Studi Literatur dan Studi Kasus Pemanfaatan Wolbachia di Yogyakarta). Forum Ilmiah. 2018. 15(2): 276-289.

Sani F. Pemanfaatan Filtrat Bakteri Endofit Kitinolitik Untuk Pengendalian Nyamuk Aedes aegypti L. [internet] 2012 [Diunduh tanggal 06 Maret 2018]. Tersedia di : http://etheses.uin-malang.ac.id/861/12/08620041%20Ringkasan.pdf.s

Ikawati B. Beauveria bassiana Sebagai Alternatif Hayati dalam Pengendalian Nyamuk. Jurnal Vektor Penyakit. 2016. 10(1): 19-24.

Windarti PW. Pengaruh Suspensi Jamur Metarhizium anisopliae Terhadap Mortalitas Larva Nyamuk Anopheles aconitus. [Skripsi]. Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. 2010

Prayitno TA dan Wahyuni D. Pemanfaatan Jamur Metarhizium anisopliae Sebagai Pengendalian Hayati Larva Nyamuk Culex sp. Jurnal Biologi dan Pembelajarannya. 2015. 1(2): 17-22.

Chapa DF, Villalobos JR, and Wong LG. Toxic Potential of Bacillus thuringiensis: An Overview. [internet] 2019 [Diunduh tanggal 9 Agustus 2019]. Tersedia di: https://www.intechopen.com/online-first/toxic-potential-of-bacillus-thuringiensis-an-overview.

Iturbe-Ormaetxe I, Walker T, and O’ Neill SL. Wolbachia and Biological Control of Mosquito Borne Disease. Embo Reports. 2011. 12(6): 508-518.

Herlinda S, Darmawan KA, Firmansyah, Adam T, Irsan C, dan Thalib R. Bioesai Bioinsektisida Beauveria bassiana dari Sumatera Selatan Terhadap Kutu Putih Pepaya, Paracoccus marginatus Williams & Granara De Willink (Hemiptera: Pseudococcidae). Jurnal Entomologi Indonesia. 2012. 9(2): 81-87.

Valero-Jimenez CA, van Kan JAL, Koenraadt CJM, Zwaan BJ, and Schoustra SE. Experimental Evolution To Increase The Efficacy of The Entomopathogenic Fungus Beauveria bassiana Against Malaria Mosquitoes: Effects on Mycelial Growth and Virulence. Evolutionary Applications. 2017. 10: 433-443.

Widiastuti D dan Kalimah IF. Efek Larvasida Metabolit Sekunder Beauveria bassiana terhadap Kematian Larva Aedes aegypti. Spirakel. 2016. 8(2): 1-8.

Putri MHO, Kasmara H, dan Melanie. Jamur Entomopatogen Beauveria bassiana (Balsamo,1912) Sebagai Agen Pengendali Hayati Nyamuk Aedes aegypti (Linnaeus, 1762). Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia. 2015. 1(6): 1472-1477.

Bilal H, Hassan SA, and Khan IA. Isolation and Efficacy of Entomopathogenic Fungus (Metarhizium anisopliae) For The Control of Aedes albopictus Skuse Larvae: Suspected Dengue Vector in Pakistan. Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine. 2012. 2(4): 298-300.

Dien GS, Manueke J dan Salaki Ch.L. Eksplorasi Bakteri Bacillus sphaericus Isolat Tanah Vegetasi Tumbuhan Hutan Alam Gunung Masarang di Tomohon Sebagai Agen Pengendali Hayati Larva Nyamuk Aedes aegypti. Jurnal Ilmu Pertanian Eugenia. 2013. 19(2): 120-127
Published
2020-01-09
Section
Articles