PENGARUH IKLIM TERHADAP KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KOTA TERNATE

  • M. Rasyid Ridha Balai Penelitian dan Pengembangan Tanah Bumbu
  • Liestiana Indriyati Balai Penelitian dan Pengembangan Tanah Bumbu
  • Amalan Tomia Balai Penelitian dan Pengembangan Tanah Bumbu
  • Juhairiyah Juhairiyah Balai Penelitian dan Pengembangan Tanah Bumbu
Keywords: Suhu, kelembaban, curah hujan, peringatan dini, DBD

Abstract

Perubahan iklim dapat berpengaruh terhadap peningkatan risiko penularan khususnya penyakit demam berdarah dengue (DBD). Kajian mengenai perubahan iklim khususnya suhu, kelembaban, dan curah hujan diperlukan guna kewaspadaan dini peningkatan kasus DBD. Sumber data menggunakan data penelitian “Kejadian DBD berdasarkan faktor iklim di Kota Ternate”. Analisis menggunaan analisis jalur untuk menjelaskan mekanisme hubungan kausal antara curah hujan, kelembaban udara, suhu udara terhadap kejadian penyakit DBD. Kasus DBD di Kota Ternate ditemukan relatif lebih tinggi pada bulan basah yaitu kisaran curah hujan > 200-412 mm, suhu 23-27oC dan kelembaban 67-82 mmHg. Suhu dan kelembaban dinyatakan berpengaruh secara signifikan pada kasus DBD di Kota Ternate (p value<0,005). Curah hujan meskipun tidak terbukti berpengaruh pada kasus DBD, akan tetapi berdasarkan diagram jalur, curah hujan berpengaruh positif terhadap kejadian penyakit DBD sebesar 8,4% yang berarti bahwa tinggi rendahnya kejadian DBD dipengaruhi oleh curah hujan sebesar 84%. Hal ini disebabkan karena curah hujan berpengaruh langsung terhadap keberadaan tempat perkembangbiakan nyamuk vektor DBD. Diperlukan kerjasama antara instansi kesehatan dengan BMKG guna sistem kewaspadaan dini peningkatan kasus DBD dengan memperhatikan tren fluktuasis suhu, kelembaban, dan curah hujan.

 

References

Guzman MG, Harris E. Dengue. Lancet (London, England). 2015;385(9966):453–65.

Wijayanti SPM, Sunaryo S, Suprihatin S, McFarlane M, Rainey SM, Dietrich I, et al. Dengue in Java, Indonesia: Relevance of Mosquito Indices as Risk Predictors. PLoS Negl Trop Dis. 2016;10(3):1–15.

Reiter P. Oviposition, dispersal, and survival in Aedes aegypti: implications for the efficacy of control strategies.. Vector Borne Zoonotic Dis. 2007;7(2):261-73.

Lozano-Fuentes S, Hayden MH, Welsh-Rodriguez C, Ochoa-Martinez C, Tapia-Santos B, Kobylinski KC, et al. The dengue virus mosquito vector Aedes aegypti at high elevation in México. Am J Trop Med Hyg. 2012;87(5):902–9.

Powell JR, Tabachnick WJ. History of domestication and spread of Aedes aegypti - A Review. 2013;108(October):11–7.

WHO. Comprehensive guidelines for prevention and control of dengue and dengue haemorrhagic fever. WHO Regional Publication SEARO. 2011. 159-168 p.

Messina JP, Brady OJ, Scott TW, Zou C, Pigott DM, Duda KA, et al. Global spread of dengue virus types: Mapping the 70 year history. Trends Microbiol. 2014;22(3):138–46.

Dinas Kesehatan KotaTernate. Laporan Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Bidang P2P. 2016.

Ebi KL, Nealon J. Dengue in a changing climate. Environ Res. 2016;151:115–23.

Naish S, Dale P, Mackenzie JS, McBride J, Mengersen K, Tong S. Climate change and dengue: A critical and systematic review of quantitative modelling approaches. BMC Infect Dis. 2014;14(1).

Xiang J, Hansen A, Liu Q, Liu X, Tong MX, Sun Y, et al. Association between dengue fever incidence and meteorological factors in Guangzhou, China, 2005–2014. Environ Res. 2017;153:17–26.

Yamin S, Kurniawan H. SPSS Complete: Teknik Analisis Statistik Terlengkap dengan Software SPSS. 2010;Penerbit Salemba Jakarta.

Sarwono J. Teori, Prusedur dan Teknik Analisis untuk Riset Skripsi, Tesis dan Disertasi. Jakarta: Elex Media Komputindo; 2014.

Wirayoga MA. Hubungan Kejadian Demam Berdarah Dengue dengan Iklim di Kota Semarang Tahun 2006-2011. Unnes J Public Heal. 2013;2(4):1–9.

Tien Zubaidah, Muhammad ratodi LM. Pemanfaatan Informasi Iklim sebagai Sinyal Peringatan Dini Kasus DBD di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Vektora. 2016;8(2):99–106.

Ramadona AL, Lazuardi L, Hii YL, Holmner Å. Prediction of Dengue Outbreaks Based on Disease Surveillance and Meteorological Data. PLoS One. 2016;31(March):1–18.

Arcari P, Tapper N, Pfueller S. Regional variability in relationships between climate and dengue/DHF in Indonesia. Singaphore J Trop Geogr. 2007;28(3):251–72.

S. Jeelani SS. Aedes vector population dynamics and occurrence of dengue fever in relation to climate variables in Puducherry, South India. Int J Curr Microbiol Appl ied Sci. 2013;2(12):313–322.

Syahribulan, Biu FM, Hassan MS. Waktu Aktivitas Menghisap Darah Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus di Desa Pa’lanassang Kelurahan Barombong Makassar Sulawesi Selatan. J Ekol Kesehat. 2012;11(4):306–14.

Ariati J, Anwar D. Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Faktor Iklim di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. J Ekol Kesehat. 2012;11(4):279–86.

Pramestuti N, Widiastuti D, Raharjo J. Transmisi Trans-Ovari Virus Dengue pada Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus di Kabupaten Banjarnegara. J Ekol Kesehat. 2013;12(3):187–94.

Joshi V, Singhi M CR. Transovarial transmission of dengue-3 virus by Aedes aegypti. Trans R Soc Trop Med Hyg. 1996;90:643–4.

Sintorini MM. Pengaruh Iklim terhadap Kasus Demam Berdarah Dengue. J Kesehat Masy Nas. 2007;2(1):11–8.

Handayani D, Ningsih U. Metode Thiessen Polygon untuk Ramalan Sebaran Curah Hujan Periode Tertentu pada Wilayah yang Tidak Memiliki Data Curah Hujan. J Teknol Inf Din. 2012;17(2):154–63.

Ariati J, Anwar A. Prediction model event dengue hemorrhagic fever (dhf) based on climate factor in bogor, west java. Bul Penelit Kesehat. 2014;42(4):249–56.

Iriani Y. Hubungan antara Curah Hujan dan Peningkatan Kasus Demam Berdarah Dengue Anak di Kota Palembang. Sari Pediatr. 2012;13(6).
Published
2020-01-09
Section
Articles