FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MUNCULNYA KEMBALI PENYAKIT KAKI GAJAH DI KABUPATEN ACEH BARAT TAHUN 2019

  • Danvil Nabela
  • Hermansyah Hermansyah
  • Nizam Ismail
Keywords: Re-emerging disease, Elephantiasis, penyakit kaki gajah

Abstract

Filariasis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing filaria jika tidak cepat maka akan mengalami cacat permanen, hal itu terjadi ketika  saat kondisi kronik terjadi pembengkakan pada kaki dan tangan, dalam kondisi itu maka disebut elephantiasis (kaki gajah). Kabupaten Aceh Barat merupakan salah satu Kabupaten yang memiliki jumlah kasus Filariasis terbanyak yang terus meningkat dari 9 kasus di tahun 2015 menjadi 15 kasus pada tahun 2017. Banyak faktor yang diduga sebagai penyebab kejadian kaki gajah diantaranya pengetahuan, prilaku, lingkungan fisik rumah, sosialisasi penyuluhan petugas kesehatan. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan munculnya kembali penyakit kaki gajah di Kabupaten Aceh Barat tahun 2018.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa munculnya kembali penyakit kaki gajah di Kabupaten Aceh Barat tahun 2018 berhubungan dengan pengetahuan (p= 0,021), sikap (p= 0.042), tindakan (p= 0,028), sosialisasi penyuluhan tenaga kesehatan (p=0.002), dan lingkungan fisik rumah (p=0.002) namun tidak ada hubungan dengan jenis kelamin (p=0.866) dan literasi kesehatan (p=0,0773). Faktor yang paling dominan adalah  tindakan pencegahan penyakit kaki gajah yang kurang baik, yang kecenderungan sebesar 28 kali untuk meningkatkan munculnya kembali penyakit kaki gajah lebih besar dibandingkan dengan variabel lain.

References

Departemen Kesehatan R., Penyakit D.J.P. & Lingkungan P., Pedoman program eliminasi filariasis di Indonesia, Jakarta. h, 2008:2-3.

Depkes, Epidemiologi Penyakit Kaki Gajah (Filariasis) di Indonesia, Jakarta. DEPKES RI, 2006.

Erlan A., Promosi Kesehatan dalam Pengendalian Filariasis, Balaba, 2014;10(02):89-96.

Ikawati B. & Wijayanti T., Pengetahuan, Sikap dan Praktik Masyarakat Kelurahan Pabean, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan tentang Filariasis Limfatik, Jurnal Ekologi Kesehatan, 2010;9(4 Des).

Ipa M., Astuti E.P., Hakim L. & Fuadzy H., Analisis cakupan obat massal pencegahan Filariasis di Kabupaten Bandung dengan pendekatan model sistem dinamik, BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA, 2016;12(1):31-38.

Kemenkes R., Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2014 Tentang Penanggulangan Filariasis, Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2015:1-118.

Kementerian Kesehatan R., Rencana Nasional Program Akselerasi Eliminasi Filariasis di Indonesia 2010-2014, Subdit Filariasis dan
Schistomiasis Direktorat P2B2, Ditjen PP dan PL. Kemenkes RI, 2010.

Komaria R.H., Faisya F. & Sunarsih E., Analysis of Physical Environment and Preventive Behavior Determinants Toward Genesis Filariasis Cases in the Sub-district of Talang Kelapa and Sembawa, District of Banyuasin, Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 2016;7(2):108-117.

Lapau B., Prinsip dan Metode Epidemiologi, Jakarta: FK.UI; 2009.

Notoatmodjo S., Promosi kesehatan teori dan aplikasi, Jakarta: Rineka Cipta, 2005:52-54.

Notoatmodjo S., Metodologi penelitian kesehatan: Jakarta: rineka cipta; 2010.

Ottesen E.A., The global programme to eliminate lymphatic filariasis, Tropical Medicine & International Health, 2000;5(9):591-594.

Soetomo F., Colver G.M. & Forouraghi K., Micro-force measurement of drag on a small flat plate in the presence of a corona discharge, Journal of electrostatics, 2006;64(7):525-530.

Yanuarini C., Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Filariasis di Puskesmas Tirto I Kabupaten Pekalongan, FIKkeS, 2015;8(1).
Published
2019-11-30
How to Cite
1.
Nabela D, Hermansyah H, Ismail N. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MUNCULNYA KEMBALI PENYAKIT KAKI GAJAH DI KABUPATEN ACEH BARAT TAHUN 2019. sel [Internet]. 30Nov.2019 [cited 3Jul.2020];6(2):75-9. Available from: http://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/sel/article/view/2369