KARAKTERISTIK PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS RUJUKAN MIKROSKOPIS KABUPATEN ACEH BESAR

  • Eka Fitria
  • Raisuli Ramadhan
  • Rosdiana Rosdiana
Keywords: Tuberkulosis paru, Mycobacterium tuberculosis, BTA

Abstract

Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang menyerang organ paru-paru dan menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat di dunia. Kawasan Asia Tenggara menyumbang 35% seluruh kasus TB yang ada di dunia. TB paru dapat didiagnosis berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang seperti laboratorium dan radiologi. Salah satu kabupaten di Aceh yang termasuk dalam lima besar kabupaten yang menyumbang 34% kasus baru TB adalah Kabupaten Aceh Besar. Data tentang karakteristik penderita TB paru di Aceh menarik untuk diungkapkan, sehingga penelitian ini layak dilakukan. Penelitian dilakukan di Puskesmas Rujukan Mikroskopis Darul Imarah, Suka Makmur dan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar dengan desain potong yang dilakukan selama 8 bulan, terdiri dari 49 responden berdasarkan total sampling. Penelitian ini bertujuan mendapatkan karakteristik penderita TB paru di 3 PRM Kabupaten Aceh Besar. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan pemeriksaan sputum dengan teknik mikroskopis BTA dan metode PCR. Data dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 29 responden penderita TB paru di PRM Darul Imarah, 2 responden di PRM Suka Makmur dan 18 responden di PRM Seulimum. Karakteristik responden penderita TB paru didapatkan berturut-turut: jenis kelamin laki-laki, umur 45-54, 55-64, pendidikan tidak tamat SD dan tamat SMA, dan bekerja sebagai buruh/tani. Pemerintah terus menggiatkan kegiatan penyuluhan kesehatan bagi warga tentang tata cara mencegah TB paru, menemukan pasien TB paru dan melakukan pengobatan  yang intensif dan tuntas sampai mereka sembuh.

References

World Health Organization, 2016. Global tuberculosis report. (hhttp://www.who.int/tb/publications/global_report/en/), diakses 28 April 2017.
2. Sulis G, Roggi A, Matteelli A, Raviglione MC. Tuberculosis: epidemiology and control. Mediterr J Hematol Infect Dis. 2014. 6(1). (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4235436/), diakses 28 April 2017.
3. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Strategi nasional pengendalian TB di Indonesia 2010-2014. Jakarta: Kementerian Kesehatan. 2011.
4. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis pedoman diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia. 2016. (http://www.klikpdpi.com/konsensus/tb/tb.html), diakses 28 April 2017.
5. Seksi Data dan Informasi. Profil kesehatan provinsi Aceh 2015. Aceh: Dinas Kesehatan Provinsi Aceh. 2016.
6. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset kesehatan dasar provinsi Aceh. Jakarta: Kementerian Kesehatan. 2013.
7. Putra IWA, Surjanto E, Suradi, Aditama TY. 2008. Nilai diagnostik pemeriksaan reaksi antai polimerase pada Tuberkulosis paru sputum basil tahan asam negatif. Jurnal Respir Indonesia 28(3): 136-144.
8. Utami BS, Harun S, Ekowatiningsih R, Yuwarni E, Kurniawan L, Aditama TY. 2002. Uji validitas teknik PCR (Polymerase Chain reaction) dan pemeriksaan mikroskopis basil tahan asam sebagai alat diagnosa penderita Tuberkulosis paru di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta. Media Litbang Kesehatan 12(3): 24-29.
9. Masniari L, Priyanti ZS, Aditama TY. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesembuhan penderita TB paru. http://www.klikpdpi.com/jurnal-warta/jri-07-07/dr.linda.htm. diakses 12 Mai 2017.
10. Susilayanti EY, Medison I, Erkadius. 2014. Profil penderita penyakit tuberkulosis paru BTA positif yang ditemukan di BP4 Lubuk Alung periode Januari 2012-Desember 2012. Jurnal Kesehatan Andalas 3(2): 151-155.
11. Sihotang RA, Lampus B, Pandelaki AJ. 2013. Gambaran penderita TB paru yang berobat menggunakan DOTS di Puskesmas Bahu Malalayang I periode Januari-Desember 2012. Jurnal Kedokteran Komunitas dan Tropik 1(1): 68-72.
12. Kurniasari RYS, Suhartono, Cahyo K. 2012. Faktor risiko kejadian tuberkulosis paru di Kecamatan Baturetno Kabupaten Wonogiri. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia 11(2): 198-204.
13. Ratnasari NY. 2012. Hubungan dukungan sosial dengan kualitas hidup pada penderita tuberkulosis paru (TB paru) di Balai Pengobatan Penyakit Paru (BP4) Yogyakarta Unit Minggiran. 2012. Jurnal TB Indonesia, volume 8: 7-11.
14. Rukmini, Chatarina, U.W. 2011. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadapkejadian TB paru dewasa di Indonesia (analisis data Riset Kesehatan Dasar tahun 2010). Buletin Penelitian Sistem Kesehatan 14(4): 320-331.
15. Notoatmodjo, S. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Rineka Cipta. Jakarta : 2007.
16. Manalu HSP. 2010. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian TB paru dan upaya penanggulangannya. Jurnal Ekologi Kesehatan 9(4): 1340-1346.
17. Pasek MS, Suryani N, Murdani KP. 2013. Hubungan persepsi dan tingkat pengetahuan penderita tuberkulosis dengan kepatuhan pengobatan di wilayah kerja Puskesmas Buleleng 1 1(1):14-23.
18. Dewi GI, Armiyati Y, Supiyono M. Hubungan antara pengetahuan, sikap pasien dan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien TB paru di BKPM Pati. http://pmb.stikestelogorejo.ac.id/e-journal/index.php/ilmukeperawatan/article/view/89/116, diakses diakses 8 Mai 2017.
Published
2017-07-28
How to Cite
1.
Fitria E, Ramadhan R, Rosdiana R. KARAKTERISTIK PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS RUJUKAN MIKROSKOPIS KABUPATEN ACEH BESAR. sel [Internet]. 28Jul.2017 [cited 3Jul.2020];4(1):13-0. Available from: http://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/sel/article/view/1441