DETEKSI MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS DENGAN PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS DAN TEKNIK PCR PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS DARUL IMARAH

  • Raisuli Ramadhan
  • Eka Fitria
  • Rosdiana Rosdiana
Keywords: Mycobacterium tuberkulosis, Mikroskopis, PCR

Abstract

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis. Penyakit tuberkulosis masih menjadi masalah utama kesehatan.TB menjadi penyebab kematian kedua terdepan penyakit menular di dunia. Indonesia menduduki peringkat kedua terbanyak setelah India dari enam negara yang menyumbang 60% dari total kejadian TB. Mycobacterium tuberculosis dapat dideteksi pada sputum dengan pemeriksaan mikroskopis, teknik Polymerase Chain Reaction (PCR), dan kultur bakteri. Aceh Besar menjadi urutan ketiga terbanyak penderita TB dan menyumbang 34 % jumlah seluruh kasus baru di Aceh. Penelitian bertujuan untuk mendeteksi Mycobacterium tuberculosis dengan pemeriksaan mikroskopik dan teknik PCR pada penderita tuberkulosis paru yang sudah menjalani pengobatan 2 bulan sampai 6 bulan di Puskesmas Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar dengan jumlah sampel minimal 29 pasien TB aktif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan pemeriksaan sputum secara mikroskopis dan teknik PCR. Data dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian didapatkan dari 29 responden hanya 1 sampel yang positif (3,4%) secara mikroskopis, sedangkan pemeriksaan dengan teknik PCR ditemukan 19 sampel yang positif (65,5%). Akurasi deteksi Mycobacterium tuberkulosis dengan teknik PCR  sangat tinggi. Mycobacterium tuberkulosis yang tidak terdeteksi dengan pemeriksaan mikroskopis (BTA) dapat dideteksi dengan teknik PCR. Sebaiknya hasil negatif pada pemeriksaan BTA secara mikroskopik dilanjutkan dengan teknik PCR guna menghindari salah diagnosis, mengingat PCR akurasinya tinggi.

 

Tuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis is still a major health problem. TB is the second leading cause of death of infectious diseases in the world. Indonesia was ranked second after India from six countries accounted for 60% of total TB incidence. Mycobacterium tuberculosis can be detected on sputum by microscopic, Polymerase Chain Reaction (PCR) technic  and culture. Aceh Besar District became the third largest TB patient and accounted for 34% of all new cases in Aceh province. The study aims to detect Mycobacterium tuberculosis by microscopic  and PCR  in patients with pulmonary tuberculosis who have been undergoing treatment for 2 months to 6 months at Puskesmas Darul Imarah Aceh Besar District with a sample size of at least 29 active TB patients. Data was collected by interview, sputum microscopic  and PCR method. Data were analyzed descriptively. The results showed of 29 respondents only 1 positive samples (3.4%) are microscopic, while the examination with the PCR technic found 19 positive samples (65.5%). Accuracy of Mycobacterium tuberculosis detection with PCR technique is very sensitive. Mycobacterium tuberculosis undetected by microscopic (Gram positive basil) and detected by PCR technique. Should a negative result in microscopic and followed by PCR technique to avoid incorrect diagnosis as the accuracy of PCR technic.

References

1. WHO. Global tuberculosis report 2014 WHO Library Cataloguing-in-Publication Data. Who. 2014:1-171. www.who.int/about/.
2. Kemenkes RI. Strategi Nasional Pengendalian Tb. 2014.
3. WHO. Global Tuberculosis Report 2017.; 2017. doi:WHO/HTM/TB/2017.23.
4. Price SA, Standridge MP. Tuberculosis paru. In: Hartanto H, Susi N, Wulansari P M DA. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: ECG; 2005.
5. Pengantar K. Modul Pelatihan Pemeriksaan Dahak Mikroskopis TB.
6. Jasaputra DK, Onggowidjaja P, Soeng S. Akurasi Deteksi Mycobacterium tuberculosis dengan Teknik PCR menggunakan “Primer X” dibandingkan dengan Pemeriksaan Mikroskopik (BTA) dan Kultur Sputum Penderita dengan Gejala Tuberkulosis Paru. J Kedokt Maranatha. 2010;5(1):7-13. http://majour.maranatha.edu/index.php/jurnal-kedokteran/article/view/65.
7. Aceh D. Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Prop Aceh.; 2014.
8. Dinas Kesehatan Provinsi Aceh. Profil Kesehatan Aceh 2015. 2016:56.
9. Besar SDDKA. Laporan Kasus Penderita TB Paru. Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar.
10. I Wayan Putra, EddySurjanto, Suradi TYA. Nilai Diagnostik Pemeriksaan Reaksi Ranatai Polimerase Pada Tuberkulosis Paru Sputum Basil Tahan Asam Negatif. 2008:136-144.
11. Veringa E, Van Harsselaar B, Hermans P. Polymerase chain reaction to detect Mycobacterium tuberculosis in a clinical microbiology laboratory. J Microbiol Methods. 1992;16(2):139-147. http://www.embase.com/search/results?subaction=viewrecord&from=export&id=L22282990%5Cnhttp://dx.doi.org/10.1016/0167-7012(92)90033-Z.
12. Inayati. Mikroskopis Sputum Bta Pada Pasien Klinis Tuberkulosis Paru Di Rs Pku Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah. :102-109.
13. Balitbangkes. Laporan Riset Kesehatan Dasar Aceh 2013. 2014.
14. de Mattos IG, Ribeiro MO, Netto ICDO, d’Azevedo PA. Tuberculosis: a study of 111 cases in an area of high prevalence in the extreme south of Brazil. Braz J Infect Dis. 2006;10(3):194-198. doi:10.1590/S1413-86702006000300008.
15. Jiménez-Corona ME, García-García L, DeRiemer K, et al. Gender differentials of pulmonary tuberculosis transmission and reactivation in an endemic area. Thorax. 2006;61(4):348-353. doi:10.1136/thx.2005.049452.
16. Fitria E, Ramadhan R, Rosdiana. Karakteristik Penderita Tuberkulosis Paru di Puskesmas Rujukan Mikroskopis Kabupaten Aceh Besar. J SEL. 2017;4(1):13-20.
Published
2017-11-23
How to Cite
1.
Ramadhan R, Fitria E, Rosdiana R. DETEKSI MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS DENGAN PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS DAN TEKNIK PCR PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS DARUL IMARAH. sel [Internet]. 23Nov.2017 [cited 16Jan.2021];4(2):73-0. Available from: http://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/sel/article/view/1463